• Insan Kamil Siap Gunakan Bahasa Bima Sehari di Sekolah

    Suasana hari pertama sekolah Tahun Ajaran 2018/2019 di SDIT Insan Kamil Santi Kota Bima, Senin (16/7/2018).
    Kota Bima, Zona Rakyat.-Pada tahun ajaran baru 2018/2019, SDIT Insan Kamil akan meluncurkan program baru penggunaan bahasa Bima setiap hari Kamis bagi guru dan siswa.
    Hal tersebut dilakukan untuk mengajarkan kepada siswa terkait penggunaan bahasa Bima dengan baik dan benar. Terutama dalam berinteraksi dengan guru, orang tua dan masyarakat di lingkungannya masing-masing. Sebab, tidak jarang bahasa Bima yang digunakan anak-anak dalam pergaulannya adalah bahasa yang kurang elok dan kurang baik.
    Oleh karena itu kata dia, program tersebut sesungguhnya dapat menyelamatkan anak-anak dari penggunaan bahasa Bima yang tidak baik. Karena kekuatan kita ada dalam diri sendiri dan tidak boleh melupakan budaya. 
    "Pulau Bali terkenal karena budayanya. Kita harus menggunakan bahasa Bima yang baik dan benar. Ini juga sebagai upaya kita untuk melestarikan budaya dan Bahasa Bima," ungkap Kepala SDIT Insan Kamil Erni Juhaenah SP saat perkenalan di hari pertama sekolah, Senin (16/7/2018) di sekolah setempat.
    Dijelaskan Erni, selain bahasa Bima, SDIT Insan Kamil juga meluncurkan penggunaan bahasa Inggris setiap hari Senin, Bahasa Arab hari Selasa dan Bahasa Indonesia juga setiap hari Rabu.
    "Jadi salah satu program baru kita ini adalah penggunaan 4 bahasa di SDIT Insan Kamil," ungkapnya.
    Program ini diharapkan agar siswa dapat menggunakan keempat bahasa ini di sekolah bahkan di luar sekolah. Mereka akan bisa memahami dan menggunakan empat bahasa juga dalam kehidupan sehari-hari. 
    "Hal ini penting, sesuai dengan tuntutan zaman yang terus berkembang dan maju. Tentu ini harus sesuai dengan kemampuan kita juga," ujar Erni.
    Kepala Sekolah juga menambahkan, selain program empat bahasa, diluncurkan pula program kebersihan dan pengelolaan sampah.
    Dalam program kebersihan dan pengelolaan sampah, siswa sudah tidak boleh membuang sampah plastik sembarangan atau di tong sampah. Sampah gelas dan botol air minum juga kertas disimpan dan dikumpulkan dalam wadah bank sampah yang disiapkan.
    "Anak-anak kumpulkan dalam bank sampah dan pada saatnya nanti akan ada yang mengambil dan menimbangnya. Kita akan merubah sampah ini menjadi uang dan bisa bernilai ekonomis," jelas Erni yang disambut teriakan para siswa.
    Pada kesempatan tersebut, seluruh ustad dan ustajah memperkenalkan diri dihadapan siswa baru dan orang tua siswa yang hadir. (ZR.02)