• DOKTER DAN PERAWAT PAHLAWAN TANPA TANDA JASA

    Munir Husen

    Pada
    saat kita menjadi siswa pendidikan menengah umum Bapak dan Ibu Guru mengajarkan lagu Himne Guru. Semua siswa menghayati lagu tersebut sebagai wujud untuk menghormati guru. Harus diakui betapa besar jasa guru, tidaklah berlebihan jika disematkan penghormatan mulia pada guru dengan sebutan “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. 


    Begitu mulianya profesi guru dimata muridnya. Namun seiring dengan kemajuan zaman, terminologi Pahlawan Tanda Tanda Jasa tersebut tidak saja disematkan pada guru melainkan juga pada profesi mulia lainnya memiliki jasa kemanusiaan yaitu “Dokter dan Perawat yang menangani Covid-19”. Dokter dan Perawat berjuang menyelamatkan pasien tidak mengenal lelah, bahkan mereka pun menanggung resiko ikut terpapar Covid-19 yang berujung pada kematian. Mereka tidak pernah mundur dalam melaksanakan tugas walau bertaruhkan nyawa sekalipun. Dokter dan perawat ketika menghadapi pasien ditangani secara ekstra hati-hati dengan prosedur tetap atau protokol Covid-19. Seringkali dokter dan perawat dihadapkan pada keputusan yang sulit merawat pasien, termasuk menghadapi keluarga pasien yang tidak mengerti dengan Protap Covid-19. 

    Mari kita lihat secara obyektif bagaimana dokter dan perawat dalam menangani pasien covid-19 tidak mengenal waktu agar pasien lekas sembuh. Jam kerja mereka tentu saja melebihi jam kerja normal. Padahal mereka memiliki keluarga yang sama seperti masyarakat pada umumnya, mereka merasakan kerinduan untuk bertemu keluarga tapi demi tugas kemanusiaan, mereka tidak pulang, tetap standby di rumah sakit umum maupun rumah sakit rujukan. Semua ini adalah bukti bahwa dokter dan perawat memiliki komitmen yang kuat terhadap masa depan bangsa dan negara. Mereka harus bekerja keras untuk menyehatkan pasien Covid-19. 

    Berita media kahaba pada Oktober 2020 dengan judul DOKTER DAN NAKES DI BIMA TERPAPAR CORONA. Dokter dan perawat memiliki resiko tinggi ketika menangani pasien Covid-19 karena mereka berhubungan langsung dengan pasien. Sejumlah dokter dan perawat dikabarkan telah gugur akibat terpapar virus Corona Covid-19. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga untuk penyembuhan pasien Covid-19 sesuai dengan keilmuan yang dimiliki. 

    Virus Covid-19 ini yang diserang bukan hanya pasien Covid-19 melainkan dokter yang menangani pasien Covid-19 pun ikut terpapar. Berdasarkan jumlah dokter yang meninggal dunia karena Covid-19 sampai pada tanggal 3 Oktober 2020 sebanyak 130 orang dokter. (https://www.kompas.com/sains/read/2020/10/04/120100623/idi--dokter-meninggal-akibat-covid-19-bertambah-3-capai-130-orang) angka kematian yang cukup fantastis akibat Covid-19 ini. Kematian dokter dan perawat bukan fiksi tapi fakta, sejarah telah mencatat bahwa mereka adalah “PAHLAWAN” dalam menangani Covid-19 ini. 

    Mungkin kita masih ingat dr Ali Khazatsin dokter spesialis syaraf yang menghembuskan napas terakhirnya di RSUP Persahabatan tanggal 21 Maret 2020 lalu, beliau sempat pulang ke rumahnya sebagai pertemuan terakhir dengan istri dan dua putri kecilnya, dalam keadaan memakai pakaian APD lengkap, sampai di pagar rumah beliau memandangi anak dan istrinya sebagai pertemuan perpisahan dan dr Hadio Ali Khazatsin “Gugur” sebagai pahlawan tanpa tanda jasa dalam melawan Covid-19. Masih banyak contoh kasus tidak bisa disebutkan satu persatu. Semoga Allah Subahannakhuataallah mengampuni dosa mereka dan memberikan tempat yang layak di sisiNya. Begitu besarnya tanggung jawab dokter dan perawat dalam menangani Covid-19 ini, banyak masyarakat yang mengapresiasi kerja keras tenaga medis. Peran dokter dan perawat menjadi kunci keberhasilan dalam upaya memberikan layanan kesehatan secara maksimal pada masa pandemi ini. Peran tenaga kesehatan menempati posisi kunci dalam upaya memberikan layanan kesehatan secara optimal kepada masyarakat yang membutuhkan dalam masa pandemi ini. Mari kita mendoakan para dokter yang sekarang sedang bergelut, berjuang dibarisan terdepan merawat pasien yang sedang terinveksi Covid-19, bahwa dokter dan tenaga perawatpun menjadi koran Covid-19. Profesi kedokteran merupakan profesi yang luhur yang berkaitan dengan kepentingan kesejahteraan manusia, sehingga sering dikatakan bahwa profesi dibidang kedokteran ini senantiasa melaksanakan perintah moral dan intelektual. 
    Menjadi seorang dokter berarti mau melayani manusia yang sakit agar dapat sembuh serta melayani manusia sehat agar tidak sakit, melalui pencegahan dan peningkatan derajat kesehatannya. Dengan demikian semangat pelayanan harus ada. Sikap ini penting dalam pembentukan sikap etis yang paling mendasar (Endang Kusuma Astuti 2009:24).

    Ada delapan pengorbanan tenaga medis untuk melawan corona yang perlu diapresiasi yakni pertma, tinggalkan rumah. Banyak dari kalangan tenaga medis terpaksa meninggalkan rumah masing-masing dalam pertempuran melawan virus corona. Hal itu mereka tak ingin mengambil resiko pulang dengan membawa virus dan menulari orang-orang tercinta di rumah. Kedua, dihari-hari normal aktivitas pergi dan pulang untuk bekerja sebagai rutinitas biasa. Namun ditengah pademi seperti sekarang, aktivitas itu sangat tidak mudah dilakukan. Andai memilih pulang setelah menunaikan tugas, seorang tenaga medis harus melakukan banyak prosedur untuk memastikan diri mereka benar-benar bersih dari virus corona atau virus lainnya sehingga tidak memiliki resiko menulari keluarga. Ketiga, Surat wasiat dan kuasa. Cerita sedih datang dari Maxine Dexter, dokter paru dan perawatan kritis di Portland Oregon. Dia merawat pasien Covid-19. Ia mendengar koleganya, dokter muda dan sehat meninggal dunia setelah menangani pasien Covid-19. Maxine Dexter dan beberapa koleganya yang lain, memutuskan untuk membuat wasiat dan kuasa, sebagai antisipasi andai mengalami nasib serupa. Keempat, dengan tugas selalu bersinggungan dengan pasien Covid-19, tenaga medis semestinya membutuhkan pengujian kesehatan lebih sering. Alih-alih mereka hanya menjalani tes apabila sudah merasakan gejala seperti demam. Tenaga medis biasanya menjalani prosedur seperti pengecekan suhu tubuh pada awal dan akhir shift serta tes setiap minggu untuk memastikan mereka tidak menjadi perantara penularan. Kelima, Isolasi Ekstrim, tugas menangani pasien Covid-19 membuat tenaga medis kadang harus menjalani isolasi yang bahkan tergolong ekstrim. Hal itu mereka lakukan demi memastikan tidak menjadi perantara penularan. Sekian Waktu lamanya mereka tak bisa melihat siapun selain pasien dan rekan satu shift, tidak keluarga maupun kekasih. Saat mendapat istirahat di rumah sakit, mereka tetap berusaha menjaga jarak satu sama lain. Sampai batas waktu tertentu, tenaga medis seperti merasa rindu berada dalam lingkungan normal."Tidak ada yang mau benar-benar berada di dekat saya sekarang," ungkap Britt, salah seorang perawat yang menangani pasien COVID-19 di San Diego, dilansir dari HuffPost. Tenaga medis bahkan tidak lagi memiliki keistimewaan untuk sekadar datang ke mini market dan harus mengandalkan jasa pesan antar, karena mereka bisa jadi pembawa virus tanpa mereka sadari. Terkadang, dalam perjalanan pulang atau berangkat bertugas, mereka secara otomatis menjauhkan diri sebanyak mungkin dari orang-orang yang mereka jumpai. Keenam, Berinteraksi dengan pasien Covid-19 bisa jadi hal mengharukan sekaligus menghangatkan bagi para tenaga medis. Seperti diketahui, pasien covid-19 yang mendapat perawatan di rumah sakit tak bisa menerima kunjungan dari siapapun karena mereka berada di ruang isolasi. Para tenaga medis itulah yang mendampingi setiap waktu. Banyak aktivitas dilakukan bersama, sekadar ngobrol, hingga main puzzle. Tenaga medis bahkan melontarkan lelucon-lelucon untuk membuat suasana lebih menyenangkan dan ceria. Ketujuh, Sulit melarikan diri, ketika hari-hari Anda secara intens terlibat dalam aktivitas merawat pasien-pasien covid-19, dengan cepat bisa terasa seperti Anda tidak dapat lepas dari pandemi. Di manapun, tenaga medis kerap merasa selalu dihadapkan dengan virus corona. Bahkan ketika beristirahat dan sekadar bermain media sosial. "Anda bahkan tak bisa membuka Instagram tanpa melihat virus corona; meme, lelucon, semua bicarakan itu," kata Britt kepada HuffPost. Di samping itu, ada juga pengakuan dari tenaga medis, saat ini ponsel mereka juga dibanjiri dengan banyak pesan singkat maupun telepon bahkan dari orang-orang yang sudah lama mereka tidak berhubungan, yang menanyakan seperti apa sebenarnya virus corona dan apakah pandemi ini seburuk yang dikatakan oleh berita. Sebagian percakapan di luar pekerjaan juga berkisar pada virus corona. Sulit bagi tenaga medis untuk "melarikan diri". Kedelapan di beberapa rumah sakit, sudah mulai menetapkan Kode Oranye. Kode itu bisa diartikan bahwa staf medis diberi mandat untuk "menginap di rumah sakit selama dianggap perlu". Hal lain, banyaknya pasien covid-19 tidak dibarengi ketersediaan tenaga medis yang mencukupi.

    Di beberapa negara, pemerintah memberikan himbauan pada tenaga medis yang telah pensiun, untuk kembali bertugas, membuktikan betapa mendesaknya kehadiran tenaga medis. Dengan belum diketahui kapan pandemi ini akan berakhir, itu berarti tenaga medis masih harus memenuhi panggilan tugasnya.Tenaga medis, yang sudah banyak berkorban, kemungkinan akan perlu membuat lebih banyak pengorbanan hingga beberapa minggu mendatang. Semua tetap memberikan perawatan sepanjang waktu bagi mereka yang mengalami COVID-19. "Saya tak ingin melakukan ini sepanjang musim panas, jujur saja. Tapi, orang-orang membutuhkan bantuan, dan itulah sebabnya saya menjadi perawat," ucap Britt, dilansir dari HuffPost. (https://www.liputan6.com/bola/read/4218457/8-pengorbanan-tenaga-medis-untuk-lawan-corona-covid-19-perlu-diapresiasi). 

    Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD menyatakan pemerintah akan memberikan tanda jasa khusus kepada 22 tenaga kesehatan yang gugur saat menangani Covid-19.(https://kabar24.bisnis.com/read/20200808/15/1276754/mahfud-22-tenaga-kesehatan-yang-gugur-tangani-corona-akan-diberi-tanda-jasa), hal ini untuk menghargai jasa-jasa dokter dan perawat yang telah berjasa berjuang melawan Covid-19. Oleh sebab itu jangan memberikan penilaian yang kontra produktif terhadap dokter dan perawat yang sudah terbukti menjalankan tugasnya dengan penuh resiko. Sebab negara-pun memberikan tanda jasa pada dokter dan perawat. Mari kita menghormati jasa dokter dan perawat. Dan semua tenaga kesehatan yang bergelut dengan Covid-19 niatkan profesi untuk ibadah, disamping sebagai tugas-tugas negara dalam bidang kesehatan dan yakinlah bahwa kalian semua mulia disisi Allah. Wallahualam Bisawab!

    (Penulis adalah Pemimpin Umum Media Zona Rakyat)