• Taman Amahami dan Pantai Lawata Destinasi Menjanjikan Bagi Para Pedagang

    Oleh : Munir Husen

    Munir Husen

    Bismillahirahmanirrahim

    Taman Amahami dan Pantai Lawata menjadi icon destinasi Wisata Kota Bima. Taman wisata ini dikunjungi oleh warga Kota Bima (domestik). Taman
    Amahami setiap pekan ramai dikunjungi oleh warga Kota Bima dan sekitarnya.
    Luar biasa daya tarik destinasi pesona Pantai Amahami. Hanya saja pengaturan penjual di Taman Wisata Amahami belum tertata dengan baik. Jika saja semua aktivitas ditata dengan apik maka kelihatan teratur dan pengunjung lebih mudah untuk bisa mengakses kebutuhannya.

    Pemerintah Kota Bima telah memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat menggunakan tempat Wisata Taman Amahami sebagai tempat usaha, dan hal tersebut perlu diapresiasi apalagi Pemkot Bima tidak menarik retribusi sepersenpun kepada masyarakat. Hal ini sebagai wujud kepedulian dan keberpihakan Pemerintah Kota Bima pada rakyatnya. Apalagi saat ini keadaan serba susah ditengah Wabah Covid-19 dan krisis ekonomi.

    Jika hari Minggu anda mengunjungi Taman Amahami, anda akan menyaksikan bagaimana ramai dan hiruk pikuknya masyarakat menikmati Taman Wisata Amahami dengan geliat ekonomi rakyat yang cukup menjanjikan.
    Pantauan penulis di Taman Amahami beberapa pekan, jumlah pedagang kuliner dan sejenisnya ada sekitar 40 orang setiap pekannya. Jika kita hitung rata-rata pendapatan para pedagang kuliner, bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp 1 Juta setiap penjual, sedangkan untuk minumnan hasil wawancara penulis minimal bisa mendapatkan sekitar Rp 600 Ribu hingga sampai Rp 750 Ribu setiap pekan.
    Belum lagi juala-jualan yang lain dikali dengan jumlah pengunjung bisa diperkirakan, berapa besar ekonomi kerakyatan yang berputar di sekitar kawasan itu.

    Taman Wisata Amahami dan Pantai Wisata Lawata icon destinasi pariwisata yang indah, terletak pada zona di teluk Bima yang sangat indah dan pesona dengan alam yang cukup ramah dan bersahabat. Keberadaan pantai Wisata Amahami dan pantai Wisata Lawata ini memang sangat strategis. Jika saja kedua taman wisata ini bisa dibuatkan wisata terpadu, maka bisa diprediksi dan dihitung berapa besar pendapatan sehari dalam rangka meningkatkan potensi pariwisata dan potensi peningkatan ekonomi
    kerakyatan. Taman Amahami dan Taman Wisata Lawata memiliki nilai historical yang cukup melekat dihati masyarakat Bima umumnya. Pantai Amahami sangat terkenal sejak zaman tempo dulu hanya saja waktu itu belum ada aktivitas seperti saat ini.

    Taman wisata Amahami mulai dikembangkan potensi destinasi wisata sejak pemerintahanan HM Nur A Latif. Suasana kawasan ini yang dulunya sepi, suram, dan kumuh menjadi ramai, terang dan berwarna. Deretan depot, lesehan, warung makan/minum dan restoran makan khas Bima yang dibangun, sangat menjanjikan dibidang ekonomi. Lahan ini menjadi prioritas utama yang perlu ditingkatkan mengingat Kota Bima memiliki penghasilan daerah yang memadai dibanding dengan kota-kota lain. Selain itu, Amahami memiliki dua jalur dan pada malam hari diterangi oleh lampu-lampu yang indah.Tidak sedikit wisatawan yang mengangumi keindahan pantai Amahami (https://pariwisata.bimakota.go.id/web/detail/57/taman_amahami).
    Disinilah sejarah awal cikal bakal pengembangan wisata Taman Amahami.
    Kemudian Pemerintah Kota Bima dijaman H Muhammad Qurais H Abidin dan H
    Arahman H Abidin pembangunan Taman Wisata Amahami menjadi prioritas. Taman
    Wisata Amahami saat ini sangat repsentatif dari segi keindahan, penataan dan arsitek taman yang dibangun sedemikian rupa sehingga pengunjung taman wisata Amahami ini tidak pernah sepi pada setiap hari Minggu. Ditambah lagi adanya Masjid terapung yang megah dengan pintu dan ventilasi udara yang lebar sehingga udara bisa masuk secara bebas ke dalam masjid. Pada saat sholat di masjid jama’ah merasa khusuk dan nyaman. Masjid terapung dengan artsitektur cukup indah, nyaman bagi pengunjung sangat cocok untuk untuk konsep wisata religi apalagi di sebelah Masjid terpampang area Pasar Amahami yang sangat strategis. Kawasan ini satu kesatuan yang sangat fenomenal bagi Kota Bima. Jika saja bisa dikelola dengan serius maka kedepan kawasan ekonomi Kota Bima di sekitar Taman wisata akan menjadi kawasan wisata dan bisnis yang sangat menjanjikan. Semua ini tergantung sungguh dari Pemerintah Daerah Kota Bima dalam menata dan merancang bagimana kawasan itu menjadi kawasan sentra ekonomi terpadu dan tempat wisata.

    Pembangunan Pariwisata merupakan salah satu proses perubahan untuk menghasilkan nilai tambah dalam segala aspek pada bidang pariwisata, mulai dari sarana dan prasarana, objek daya tarik wisata, dan aspek-aspek lainnya yang berkaitan dengan pariwisata. Penyelenggaraan pembangunan pariwisata tersebut dilaksanakan dengan
    tetap memperhatikan kelestarian dan mendorong upaya meningkatnya mutu
    lingkungan hidup, serta daya tarik wisata itu sendiri. Salah satu bentuk pariwisata yang ada ialah pariwisata pesisir. Wilayah pesisir memiliki banyak potensi berupa keunikan dan keindahan alamnya yang dapat menjadi daya tarik wisata sehingga aktivitas pariwisata pun dapat dikembangkan dan menghasilkan dampak positif dengan ikut meningkatkan perekonomian kawasan tersebut (Fajriah, 2014) (Muhammad Brian
    Adam 2018).

    Kota Bima saat ini dibawah kepemimpinan H. Muhammad Lutfi dan Fery Sofyan telah
    melakukan terobosan baru yaitu membuka akses Wisata Pantai Lawata yang sebelumnya belum disentuh secara maksimal. Sekarang telah dilakukan pembenahan, renovasi dan pengembangan Pantai Wisata Lawata sehingga terjadi perubahan yang sangat signifikan. Pantai Wisata Lawata dikenal sejak dahulu kala. Obyek Wisata ini berada di dalam teluk Bima yang sangat apik baik dari aspek geografis maupun aspek pemandangan alam mempesona. Pantai Lawata merupakan salah satu kawasan wisata alam pantai yang terdapat di Kota Bima dan sudah sejak tahun 1961 Pantai Lawata menjadi sebuah obyek wisata atau tempat piknik bagi masyarakat Bima. Pantai Lawata terletak di Kelurahan Sambinae dengan jarak 5 km dari pusat Pemerintahan Kota Bima.
    Di Pantai Lawata terdapat bukit-bukit kecil yang memiliki dua buah gua kecil, dengan panorama alam yang indah serta pantainya sangat jernih sebagai tempat yang bagus untuk olahraga air atau sebagai tempat permandian air laut. Pantai Lawata ibarat sebuah gerbang selamat datang, memberi isyarat bahwa perjalanan akan segera memasuki Kota Bima. Panjang pantai kira-kira setengah kilometer yang dikelilingi perbukitan yang indah. Di bawah bukit berbatu terdapat goa peninggalan Jepang. Dahulu tempat ini merupakan tempat peristrahatan bagi para bangsawan Bima dan kemudian menjadi tempat rekreasi andalan masyarakat yang selalu ramai dikunjungi. Pemerintah Kota Bima terus membenahi Pantai Lawata untuk menjadi salah satu obyek wisata pantai andalan di Kota Bima (Rizkun Imaduddin:2017).

    Di lokasi Pantai Wisata Lawata telah disiapkan sarana dan prasarana pendukung mulai dari rumah lengge untuk istirahat para wisatawan, kolam renang, lapak-lapak kuliner, kendaraan air jet voit, cafe dan sebagainya semua dibangun dalam rangka untuk mendukung sektor pariwisata Kota Bima. Obyek Wisata Taman Amahami dan Pantai Lawata jika dijadikan obyek wisata terpadu maka akan semakin menggairahkan wisata di Kota Bima yang bisa menyaingi obyek wisata lain di NTB. Jika Pemerintah Daerah
    serius untuk membangun pariwisata yang repsentatif maka perlu memenuhi kualifikasi standar kawasan wisata baik dan berhasil jika secara optimal didasarkan pada empat aspek yaitu: a). Mempertahankan kelestarian lingkungan; b). Meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut; c). Menjamin kepuasan pengunjung; d).
    Meningkatkan keterpaduan dan unit pembangunan masyarakat di sekitar kawasan pengembangannya (Jurnal Nasional Pariwisata, 2013). Dengan demikian kepada pemerintah dan stecholder untuk bisa mengambil peran dalam rangka mewujudkan pariwisata Kota Bima yang berkemajuan dalam skala nasional dengan dua konsep yaitu
    wisata biasa dan wisata religi. Kota Bima sudah memiliki kelengkapan untuk menunjang pengembangan wisata berbasis syariah, seperti bank syariah, pegadian syariah serta didukung oleh kultur budaya khas muslim dan penerimaan masyarakat. Tinggal
    bagaimana rumusan model pengembangannya, strategi promosi untuk meningkatkan minat asing, serta mempermudah akses transportasi dan peningkatan kualitas obyek.

    Kota Bima memiliki potensi sebagai destenasi transit tourism karena berada pada jalur emas wisata, yaitu jalur Bali-Lombok-Labuan Bajo Flores dengan Pulau Komodonya. Potensi pengembangan wisata syariah (halal tourism) menjadi salah satu stategi
    peningkatan Sumber Pendapatan Asli Daerah Kota Bima yang masih sangat kecil, yaitu 6,6 Milyar untuk semester I di tahun 2016 (Tambora New.com2016) seta peningkatan ekonomi masyarakat melalui aktivitas wisata dan wisata syariah kreatif lainnya.(Jurnal Sadar Wisata:2019).

    Inilah sekelumit perjalan panjang Pemerintahan Kota dalam mengembangkan potensi wisata Kota Bima. Dan saat ini Pemerintah Kota Bima juga telah menambah lokasi-lokasi Taman Terbuka Hijau di Kodo misalnya
    sebagai obyek wisata, tinggal bagaimana obyek wisata ruang terbuka Hijau Taman Kodo bisa dioptimalkan sehingga masyarakat di bagian timur juga bisa menikmati wisata di Taman Kodo. Sangat memungkinkan pengembangan wisata. Semua Kepala Daerah baik yang purna tugas maupun yang saat ini menjabat memiliki pandangan yang sama bahwa destinasi obyek wisata Kota Bima perlu mendapat perhatian yang serius. (*)

    Penulis : Pemimpin Umum Media Zona Rakyat.