Pembangunan Kolam Retensi Amahami Dimulai, Pemkot Bima Andalkan Infrastruktur Baru Redam Ancaman Banjir
![]() |
| Wali Kota Bima dan Wakil Wali Kota Bima dan Forkopimda saat peletakan batu pertama pembangunan Kolam Retensi Amahami. |
Kota Bima, Zona Rakyat.-Setelah bertahun-tahun menghadapi banjir yang berulang, Kota Bima mulai membangun salah satu infrastruktur pengendalian banjir yang dinilai strategis. Wali Kota Bima H. A. Rahman meresmikan dimulainya pembangunan Kolam Retensi Amahami melalui peletakan batu pertama (groundbreaking), Rabu (5/8/2026).
Proyek yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara I Mataram itu menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pengendalian banjir di wilayah hilir Kota Bima. Hingga awal Agustus, progres fisik pekerjaan dilaporkan telah mencapai sekitar 20 persen.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek menjelaskan pembangunan mencakup dua kolam retensi di kawasan Amahami dengan kapasitas tampung sekitar 15.200 meter persegi. Infrastruktur tersebut dirancang untuk menahan limpasan air saat debit sungai meningkat sebelum dialirkan secara bertahap ke badan sungai dan laut. Kawasan kolam retensi juga akan dikembangkan sebagai ruang terbuka hijau dan area konservasi air.
Wali Kota Bima H. A. Rahman mengatakan dimulainya pembangunan tersebut menandai masuknya Kota Bima pada tahap baru penanganan banjir yang selama ini menjadi persoalan utama pembangunan daerah.
"Ini bukan sekadar peletakan batu pertama, tetapi awal dari pembangunan infrastruktur yang telah lama diperjuangkan masyarakat Kota Bima sebagai bagian dari solusi pengendalian banjir," katanya.
Menurut dia, proyek tersebut merupakan hasil proses panjang yang melibatkan penyusunan perencanaan, kajian hidrologi, pembebasan lahan, hingga koordinasi intensif antara Pemerintah Kota Bima dan pemerintah pusat. Karena itu, ia meminta seluruh pihak menjaga agar pekerjaan berjalan tanpa hambatan.
Rahman menegaskan penanganan banjir tidak cukup dilakukan melalui normalisasi sungai atau penanganan darurat setiap musim hujan. Pemerintah, kata dia, membutuhkan infrastruktur pengendali banjir yang terintegrasi dan dibangun berdasarkan kajian teknis serta daya dukung lingkungan.
Ia juga mengajak masyarakat mendukung pelaksanaan proyek agar dapat diselesaikan sesuai target. Menurutnya, manfaat kolam retensi tidak hanya mengurangi potensi banjir, tetapi juga memperbaiki tata ruang kawasan pesisir melalui penyediaan ruang terbuka hijau yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Usai groundbreaking, Wali Kota bersama Wakil Wali Kota Feri Sofiyan, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala BBWS Nusa Tenggara I Mataram, dan jajaran pemerintah daerah meninjau Kolam Retensi Dae Lakosa. Peninjauan itu dilakukan untuk mengevaluasi perkembangan infrastruktur pengendalian banjir yang telah lebih dahulu dibangun sebagai bagian dari sistem pengendalian banjir terpadu di Kota Bima.
Pemerintah Kota Bima berharap pembangunan Kolam Retensi Amahami dapat memperkuat kapasitas pengendalian banjir di kawasan rawan genangan sekaligus menjadi salah satu infrastruktur pendukung penataan kawasan perkotaan yang lebih aman dan berkelanjutan. (ZR2)




.jpg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar