• Breaking News

    Silaturahim Kebangsaan Lintas Ormas Islam di Bima: KH Zainuddin Ajak Umat Tinggalkan Sekat Kelompok

    Silaturahim Kebangsaan yang digelar di Gedung H Abdul Salam, Pasar Sila Kabupaten Bima, Minggu (30/8/2026).

    Bima, zonarakyat.com.-
    Semangat memperluas persaudaraan dan memperkuat persatuan umat menjadi pesan utama dalam Silaturahim Kebangsaan Lintas Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam yang digelar di Gedung H. Abdul Salam, Pasar Sila, Kabupaten Bima, Minggu (30/8/2026).


    Mengusung tema “Peran Umat Islam dalam Mengisi Kemerdekaan dan Persatuan Umat”, kegiatan tersebut mempertemukan tokoh dan perwakilan dari berbagai organisasi Islam di Kabupaten Bima. Forum ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat ukhuwah Islamiyah sekaligus mendorong kontribusi umat dalam mengisi kemerdekaan.

    Kegiatan tersebut diinisiasi KH. Zainuddin, MY, S.Pd.I (pengasuh Pondok Pesantren Usman Bin Affan Dompu). Sementara dialog dipandu oleh Drs. H. Taufiqurrahman, M.Pd., mantan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Bima.

    Dalam forum tersebut, KH. Zainuddin mengajak umat Islam untuk tidak terjebak dalam sekat-sekat kelompok, termasuk hanya membangun pergaulan dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dalam aspek tertentu.

    “Mari kita tinggalkan ghulu. Jangan hanya bergaul dengan sesama berjenggot, sesama yang tidak isbal, atau sesama kelompok. Mari perluas silaturahim,” ajak KH Zainuddin.

    Menurutnya, ukuran persaudaraan umat Islam tidak semestinya dibatasi oleh perbedaan kelompok, organisasi, maupun praktik-praktik yang bersifat cabang.

    “Kalau orang sudah bertauhid, shalat, zakat, dan puasa, itu adalah saudara seimanmu,” tegasnya.

    Karena itu, ia mendorong agar perbedaan yang ada di tengah umat tidak menjadi sumber perpecahan. Sebaliknya, keberagaman organisasi Islam harus menjadi kekuatan untuk membangun kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

    Selain memperluas silaturahim, KH. Zainuddin juga mengajak seluruh elemen umat Islam untuk bersatu dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai bentuk kebaikan.

    “Mari bersatu. Kita isi kemerdekaan ini dengan kebaikan. Umat adalah saham nomor satu yang memberikan sumbangsih terhadap kemerdekaan bangsa ini,” ujarnya.

    Menurut dia, perjuangan umat Islam dalam sejarah kemerdekaan Indonesia harus menjadi kesadaran bersama untuk kemudian dilanjutkan melalui kontribusi nyata pada masa kini.

    Semangat tersebut menjadi relevan dengan tema silaturahim kebangsaan yang menempatkan umat Islam bukan hanya sebagai kelompok sosial-keagamaan, tetapi juga sebagai bagian penting dari kekuatan bangsa.

    Kegiatan tersebut menghadirkan dr. H. Irfan Zubaydi, Wakil Bupati Bima, sebagai keynote speaker. Turut hadir sejumlah tokoh lintas organisasi dan lembaga Islam, diantaranya Dr. Ihlas, S.Pd.I., M.Pd., S.H., Ust. Abdul Hakim Bin Seif, Ust. Fuadz Bin Seif, dan Dr. Abdul Munir, M.Pd.I.

    Forum dialog juga melibatkan sejumlah tokoh dari berbagai organisasi dan lembaga pendidikan Islam, seperti Ust. Asikin (FUI), Ust. Saifuddin (Wahdah), Ust. Jabir (Ponpes Al-Madinah), Ust. Muh. Taqiyuddin (Yamani), Ust. Halim (An Naba), Ust. Dahlan (Guru MAN 2), H. Taufik (Muhammadiyah), Ust. Zaedon (Ponpes Abu Bakar), Ust. Abd. Qodir (RQ Al Mustaqim), Ust. Iskandar (Ponpes Abubakar), Ust. Mujahidul Haq (Ponpes Assalam), dan Muhammad Faisal, S.Pd.

    Kehadiran lintas ormas tersebut memperlihatkan adanya kebutuhan untuk membangun ruang komunikasi yang lebih luas di antara berbagai elemen umat Islam. Perbedaan manhaj, organisasi, maupun latar belakang tidak seharusnya menghilangkan semangat persaudaraan sebagai sesama umat dan warga bangsa.

    Silaturahim ini juga menjadi momentum untuk mengingat kembali besarnya kontribusi umat Islam dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tantangan berikutnya adalah bagaimana energi keumatan tersebut diarahkan untuk mengisi kemerdekaan melalui pendidikan, dakwah, pembangunan sosial, pemberdayaan ekonomi, dan penguatan persatuan bangsa.

    Pesan KH. Zainuddin menjadi benang merah kegiatan tersebut: memperluas persaudaraan, meninggalkan sekat-sekat kelompok, dan menjadikan persatuan umat sebagai modal untuk mengisi kemerdekaan dengan kebaikan. (ZR3)

    Tidak ada komentar