• Breaking News

    KALASAR XXVI SYMPEL UM Bima Tuntas, Peserta Ditempa Menjadi Kader Tangguh Berjiwa Kemanusiaan

    Para peserta sedang mengikuti KALASAR XXVI SYMPEL Ibnu Jazirah UM Bima.

    Kota Bima, zonarakyat.com-
    Pendidikan dan Pembekalan Dasar (KALASAR) XXVI Symponi Mahasiswa Pecinta Alam (SYMPEL) Ibnu Jazirah Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) berakhir, setelah pada 11 Oktober 2026 menyelesaikan seluruh rangkaian pendidikan.

    Selama proses pendidikan, peserta ditempa untuk membangun ketangguhan, kemandirian, kedisiplinan, serta kepedulian terhadap lingkungan dan kemanusiaan.

    Kegiatan yang berlangsung sejak 30 September 2026 lalu, diikuti sebanyak 18 peserta, terdiri atas 4 laki-laki dan 14 perempuan. Seluruh peserta menjalani pembekalan teori, persiapan fisik dan mental, serta praktik keterampilan di alam terbuka sebelum dikukuhkan sebagai Anggota Muda SYMPEL Ibnu Jazirah UM Bima.

    KALASAR XXVI tidak sekadar menjadi agenda regenerasi organisasi, tetapi juga bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang memiliki keterampilan kepencintaalaman, solidaritas, tanggung jawab sosial, dan semangat pengabdian kepada masyarakat.

    Tiga Tahapan Pendidikan

    Pendidikan dasar tersebut dilaksanakan melalui tiga tahapan utama dengan lokasi yang disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran.

    Tahap pertama berlangsung pada 30 September 2026 di Kampus II UM Bima dengan fokus pembekalan materi teori. Tahap kedua dilaksanakan pada 2–4 Oktober 2026 di kawasan Hutan Kota dan Tebing Rontu, Kota Bima, untuk pemeriksaan kondisi fisik serta persiapan prap lapangan.

    Tahap ketiga berlangsung pada 6–11 Oktober 2026 melalui aplikasi lapangan di kawasan Hutan Lindung Woro, dengan jalur kegiatan mencakup DAM Woro, Kecamatan Madapangga, hingga DAM Kanca, Kecamatan Parado, Kabupaten Bima.

    Materi pendidikan meliputi pengenalan organisasi, manajemen kegiatan alam terbuka, navigasi manual dan digital, jungle survival, Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), serta rock climbing atau panjat tebing.

    Pada tahap aplikasi lapangan, peserta menjalani praktik panjat tebing, navigasi perjalanan, search and rescue (SAR), evakuasi, teknik bertahan hidup, serta manajemen logistik dan perbekalan.

    Seluruh rangkaian tersebut dirancang untuk membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan dasar dalam menghadapi tantangan alam terbuka, mengenali potensi bahaya, serta memahami pentingnya prosedur keselamatan dan kerja sama tim.

    Regenerasi dan Penguatan Kapasitas Kader

    Ketua Panitia KALASAR XXVI, Usamad, mengatakan pendidikan dasar tersebut memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan organisasi sekaligus meningkatkan kemampuan calon anggota.

    “Melalui KALASAR XXVI, kami ingin melaksanakan regenerasi organisasi sekaligus membekali peserta dengan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan mental untuk menghadapi berbagai tantangan di alam terbuka maupun dalam kegiatan kemanusiaan,” ujarnya.

    Menurut dia, pendidikan yang terstruktur dan praktik lapangan menjadi fondasi bagi peserta untuk mengembangkan kemampuan yang bermanfaat bagi organisasi dan masyarakat.

    Ia berharap para peserta terus mengembangkan kompetensi, menjaga kedisiplinan, dan memahami bahwa setiap aktivitas di alam terbuka harus dilaksanakan dengan perencanaan yang matang serta mengutamakan keselamatan.

    Senada dengan itu, Ketua Bidang Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan (DIKLATBANG) SYMPEL Ibnu Jazirah, Nurhayati, menegaskan bahwa KALASAR merupakan proses pembentukan karakter yang tidak hanya berorientasi pada keterampilan teknis.

    “KALASAR bukan hanya tentang bagaimana peserta mampu bertahan menghadapi tantangan alam, tetapi juga bagaimana membentuk pribadi yang mandiri, tangguh, disiplin, memiliki solidaritas, serta peduli terhadap sesama dan lingkungan,” katanya.

    Ia menjelaskan, kemampuan teknis harus berjalan seiring dengan pembentukan sikap dan tanggung jawab sosial. Dengan demikian, kader yang dihasilkan tidak hanya mampu menjalankan aktivitas kepencintaalaman, tetapi juga memiliki kesadaran untuk berkontribusi dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan.

    Nurhayati berharap para Anggota Muda SYMPEL terus mengikuti pendidikan lanjutan dan latihan berkala, terutama untuk meningkatkan kapasitas dalam kesiapsiagaan bencana, SAR, dan kegiatan pertolongan sesuai kompetensi serta prosedur yang berlaku.

    Solidaritas Menjadi Ujian Karakter

    Ketua SYMPEL Ibnu Jazirah UM Bima, Agus Salim, mengungkapkan rasa haru dan bangganya atas keberhasilan seluruh peserta menyelesaikan rangkaian pendidikan hingga pengukuhan.

    “Sebagai ketua, saya merasa bangga dan terharu melihat perjuangan adik-adik peserta yang mampu melewati seluruh tahapan KALASAR. Proses ini tidak mudah karena mereka harus menghadapi kelelahan fisik dan mental serta berbagai tantangan selama berada di lapangan,” ungkapnya. 4

    Menurut Agus, salah satu pelajaran paling berharga dari pendidikan tersebut adalah tumbuhnya solidaritas antarpeserta.

    Ia menuturkan, terdapat momen ketika peserta berusaha membantu dan menggendong rekan sesama siswa KALASAR yang mengalami kesulitan. Peristiwa itu menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan bukan semata-mata ditentukan oleh kemampuan individu, melainkan juga kesediaan untuk saling membantu.

    “Bagi kami, keberhasilan bukan hanya ketika seseorang mampu bertahan menghadapi kesulitan, tetapi juga ketika ia bersedia menguatkan dan membantu rekannya. Nilai persaudaraan dan kemanusiaan seperti inilah yang harus terus dijaga oleh setiap kader SYMPEL,” tambahnya.

    Agus menegaskan, pengukuhan sebagai Anggota Muda bukanlah akhir dari proses belajar. Sebaliknya, tahap tersebut menjadi awal tanggung jawab baru untuk terus meningkatkan kapasitas, menjaga nama baik organisasi, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

    MDMC Dorong Pengembangan Relawan Muhammadiyah

    Apresiasi terhadap pelaksanaan KALASAR XXVI juga disampaikan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Kabupaten Bima Amiruddin, M.H.

    Ia menilai pendidikan kepencintaalaman yang dipadukan dengan penguatan nilai kemanusiaan merupakan ruang positif untuk membangun karakter generasi muda sekaligus mengembangkan potensi relawan.

    “Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi generasi muda, kegiatan seperti KALASAR memberikan ruang untuk membangun kedisiplinan, produktivitas, kepedulian sosial, dan semangat pengabdian. Generasi muda perlu diarahkan pada kegiatan yang memperkuat karakter dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujarnya.

    Amiruddin juga menyampaikan ucapan selamat kepada para peserta yang telah menyelesaikan pendidikan dasar dan memasuki tahapan baru dalam perjalanan organisasi.

    “Kami berharap SYMPEL Ibnu Jazirah terus berkembang dan mengambil bagian dalam pengembangan relawan Muhammadiyah, khususnya di Kota dan Kabupaten Bima. Ke depan, kontribusi ini diharapkan dapat diperluas ke Dompu, Sumbawa, Flores, dan wilayah sekitarnya sesuai kebutuhan serta kapasitas organisasi,” katanya.

    Menurut Amiruddin, pengembangan relawan membutuhkan kerja sama berbagai pihak, baik perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, organisasi kemanusiaan, maupun masyarakat. Kolaborasi tersebut penting untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana, pelestarian lingkungan, dan pelayanan kemanusiaan.

    Ia berharap kader SYMPEL dapat terus meningkatkan kemampuan melalui pelatihan dan pendidikan lanjutan sehingga kontribusinya dalam kegiatan kemanusiaan dapat dilakukan secara profesional, terukur, dan sesuai prosedur keselamatan.

    UM Bima Dukung Keberlanjutan Kaderisasi

    Dukungan terhadap pelaksanaan KALASAR XXVI juga diberikan Universitas Muhammadiyah Bima. Wakil Rektor III UM Bima, Dr. Hajairin, memberikan motivasi kepada peserta agar tetap bersemangat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani proses pendidikan.

    “Jangan mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Jadikan setiap tantangan sebagai proses pembelajaran untuk membentuk mental yang kuat, meningkatkan kedisiplinan, dan menumbuhkan tanggung jawab. Teruslah berjuang hingga seluruh proses pendidikan diselesaikan dengan baik,” pesan Hajairin kepada peserta.

    Ia menekankan bahwa pembentukan karakter membutuhkan kesungguhan, kesabaran, dan konsistensi. Karena itu, para peserta diharapkan menjadikan pengalaman selama KALASAR sebagai bekal untuk menghadapi tantangan berikutnya, baik dalam organisasi maupun kehidupan bermasyarakat.

    Dukungan universitas diwujudkan melalui pembiayaan kegiatan secara penuh oleh UM Bima, disertai kontribusi dari para senior SYMPEL. Dukungan tersebut mencerminkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi, organisasi mahasiswa, dan keluarga besar alumni dalam menjaga keberlanjutan kaderisasi.

    Dari Kaderisasi Menuju Pengabdian

    Tuntasnya KALASAR XXVI menandai dimulainya tanggung jawab baru bagi 18 Anggota Muda SYMPEL Ibnu Jazirah UM Bima. Bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan menjadi dasar bagi mereka untuk mengikuti pendidikan lanjutan, latihan berkala, serta berbagai kegiatan pengabdian.

    Para kader juga diharapkan mengambil bagian dalam pelestarian lingkungan hidup, edukasi masyarakat, kegiatan sosial, dan penguatan kesiapsiagaan bencana sesuai kompetensi yang terus dikembangkan.

    Di tengah tantangan kerusakan lingkungan dan kebutuhan peningkatan kesiapsiagaan menghadapi bencana, keberadaan generasi muda yang peduli, terampil, dan berorientasi pada pengabdian menjadi modal penting bagi masyarakat.

    KALASAR XXVI menegaskan bahwa kecintaan terhadap alam tidak cukup diwujudkan melalui aktivitas petualangan, tetapi harus disertai tanggung jawab untuk menjaga lingkungan dan menghormati keselamatan. Demikian pula, semangat kemanusiaan harus dibuktikan melalui tindakan nyata, kepedulian, kerja sama, dan kesediaan membantu sesama.

    Dengan semangat “Ready for Struggle”SYMPEL Ibnu Jazirah UM Bima diharapkan terus melahirkan kader yang tangguh menghadapi tantangan alam, kuat dalam persaudaraan, peduli terhadap lingkungan, serta siap berkontribusi bagi masyarakat melalui pengabdian yang terukur dan bertanggung jawab. (ZR3)

    Tidak ada komentar