• Breaking News

    Mentoring AIK Fakultas Kesehatan UM Bima: Generasi Unggul Harus Kuat Ilmu, Akidah, dan Akhlak

    Kegiatan mentoring mahasiswa Fakuktas Kesehatan UM Bima, Selasa (13/10/2026).

    Kota Bima, zonarakyat.com.–
    Fakultas Kesehatan Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) memperkuat pembinaan karakter dan spiritualitas mahasiswa melalui kegiatan Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) di Masjid Kampus I Al-Ikhlas UM Bima, Selasa (13/10/2026).

    Kegiatan yang diikuti dosen dan mahasiswa Fakultas Kesehatan tersebut mengangkat tema “Membangun Generasi Unggul, Berakhlak Mulia dan Berilmu”. Mentoring ini menjadi bagian dari upaya membentuk mahasiswa yang tidak hanya unggul secara akademik dan profesional, tetapi juga memiliki landasan akidah, akhlak, dan spiritualitas yang kuat.

    Kegiatan dibuka oleh Sekretaris LPP AIK, Kaharuddin, M.Pd.I. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa Mentoring AIK bukan sekadar agenda rutin, melainkan sarana untuk menyegarkan kembali pemahaman keagamaan serta memperkuat hubungan spiritual mahasiswa dengan Allah SWT.

    Menurutnya, pembinaan AIK perlu menjadi bagian penting dalam kehidupan mahasiswa agar aktivitas akademik berjalan seiring dengan penguatan iman dan pengamalan nilai-nilai Islam.

    Hadir sebagai penceramah utama, Ustadz Dr. Ilham, M.Pd.I., menyampaikan materi mengenai pentingnya ilmu pengetahuan, akidah yang kokoh, dan akhlak mulia dalam membangun generasi unggul.

    Ilmu Pengetahuan sebagai Fondasi Generasi Unggul

    Mengawali ceramahnya, Dr. Ilham mengajak peserta membaca Surah Luqman ayat 1–10. Ia kemudian menjelaskan pentingnya Al-Qur’an sebagai pedoman dalam membangun kehidupan dan membentuk karakter generasi muda.

    Ia juga mengingatkan keutamaan membaca Al-Qur’an, termasuk ganjaran kebaikan bagi orang yang membacanya.

    “Generasi unggul adalah generasi yang punya ilmu. Generasi lemah adalah orang yang tidak punya ilmu. Allah SWT tidak menginginkan kita menjadi generasi yang lemah, baik lemah dalam pengetahuan, lemah dalam agama, maupun lemah dalam pikiran,” ujar Dr. Ilham.

    Ia selanjutnya mengaitkan pesan tersebut dengan Surah An-Nisa ayat 9 yang mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi yang lemah.

    Menurutnya, pesan ayat tersebut menjadi pengingat penting bagi mahasiswa untuk terus belajar, memperkuat pengetahuan, memperdalam pemahaman agama, serta membangun ketangguhan berpikir.

    Dalam konteks Muhammadiyah, ia menekankan bahwa kader harus memiliki keunggulan intelektual sekaligus pemahaman agama yang kuat dengan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman utama.

    Ia juga mengajak mahasiswa untuk menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber nilai dan pedoman dalam menjalani kehidupan, termasuk ketika menghadapi berbagai tantangan di bidang kesehatan.

    Tauhid Menjadi Fondasi Pembentukan Karakter

    Lebih lanjut, Dr. Ilham menjelaskan bahwa keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari pencapaian duniawi, tetapi juga dari upaya meraih kebahagiaan di akhirat.

    Ia mengingatkan peserta pada doa yang kerap dipanjatkan umat Islam, Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban-nar, yang berarti memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, dan perlindungan dari azab neraka.

    Menurutnya, salah satu fondasi utama untuk membangun generasi unggul adalah tauhid yang murni.

    Ia mengutip pesan Luqman kepada anaknya dalam Surah Luqman ayat 13 agar tidak mempersekutukan Allah SWT, karena perbuatan syirik merupakan kezaliman yang besar.

    Pesan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan prinsip tauhid dalam kehidupan warga Muhammadiyah, yakni meneguhkan penghambaan hanya kepada Allah SWT.

    “Jangan meminta-minta kepada selain Allah. Jika pikiran manusia kosong dari tauhid, maka akan mudah dihasut oleh hantu dan setan,” jelasnya.

    Ia mengajak mahasiswa menjadikan tauhid sebagai landasan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak sehingga ilmu pengetahuan yang diperoleh tidak terlepas dari nilai-nilai agama dan tanggung jawab moral.

    Mahasiswa Kesehatan Harus Seimbang antara Intelektual dan Spiritual

    Dalam materinya, Dr. Ilham juga mengutip pesan tentang pentingnya menjadi generasi Rabbani, yakni generasi yang dekat dengan Allah, mendalami ilmu, serta mengajarkan pengetahuan kepada orang lain.

    Ia menegaskan bahwa mahasiswa harus terus mengembangkan kompetensi sesuai bidang keilmuan masing-masing tanpa mengabaikan kewajiban agama.

    “Boleh kalian menjadi ahli gizi, ahli kesehatan lingkungan, tapi kalian harus tetap berada dalam koridor perintah Allah SWT. Jadilah orang yang memiliki keseimbangan antara intelektual dan spiritual,” pesannya kepada mahasiswa Fakultas Kesehatan.

    Menurutnya, mahasiswa kesehatan memiliki tanggung jawab untuk menguasai ilmu dan keterampilan profesional sekaligus membangun integritas dalam menjalankan tugas. Pengetahuan yang dimiliki harus memberikan manfaat bagi masyarakat dan dilandasi nilai-nilai kemanusiaan serta ajaran Islam.

    Ia juga menyoroti pentingnya prinsip halalan thayyiban, yaitu mengonsumsi makanan yang halal dan baik. Prinsip tersebut relevan dengan bidang keilmuan Fakultas Kesehatan, khususnya dalam memahami hubungan antara makanan, kesehatan, dan kehidupan yang sesuai dengan tuntunan agama.

    Melalui pemahaman tersebut, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan perspektif keislaman dengan pengetahuan kesehatan dalam kegiatan akademik maupun pengabdian kepada masyarakat.

    Mengajak Mahasiswa Berlomba dalam Kebaikan

    Menutup materinya, Dr. Ilham mengajak mahasiswa mengamalkan prinsip fastabiqul khairat, yakni berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana pesan Surah Al-Baqarah ayat 148.

    Ia menekankan bahwa menjadi generasi unggul bukan hanya tentang memperoleh prestasi akademik, tetapi juga tentang konsistensi dalam beribadah, memperbaiki akhlak, meningkatkan pengetahuan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

    Sementara itu, Ketua Program Studi Kesehatan Lingkungan dalam sambutannya menyampaikan bahwa kegiatan Mentoring AIK menjadi ikhtiar untuk menyegarkan kembali spiritualitas mahasiswa agar tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akidah yang kuat.

    Senada dengan itu, Ketua Program Studi Gizi menilai mentoring sebagai sarana untuk mengingatkan mahasiswa agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui ibadah dan pengamalan nilai-nilai Islam.

    Kegiatan berlangsung khidmat dan disambut antusias oleh peserta. Acara ditutup dengan doa bersama untuk kemajuan UM Bima serta harapan lahirnya generasi tenaga kesehatan yang profesional, berakhlak mulia, berlandaskan nilai-nilai Islam, dan berkemajuan. (ZR3)

    Tidak ada komentar