• Mensyukuri Keragaman Keniscayaan Ber-Indonesia

    Ihsan Suaeb

    Manusia hidup dalam realitas Keragaman, diantaranya perbedaan keyakinan, Golongan, ras, dan Budaya. Demikin juga realitas kehidupan berindonesia yang majemuk (Plural Society), Indonesia terbentang dari sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Rote menyajikan Keragaman. Menurut sensus BPS tahun 2010, Indonesia memiliki 1.300 suku bangsa. Jumlah yang sangat banyak jika dibandingkan dengan kebanyakan negara-negara lain di Dunia. 
    Perlu disadari bahwa keragaman tetap saja menjadi dua sisi mata pisau. Keragaman disatu sisi menjadi rahmat, dan di sisi lain bisa menjadi ancaman. Bagi orang yang beriman, perbedaan keyakinan, golongan, ras dan budaya merupakan sunnnatullah, Sesuatu yang harus diyakini sebagai bagian dari keMaha-Agungan penciptanya. Pada tataran individupun manusia dan makhluk ciptaan Tuhan lainnya memiliki keunikan masing-masing.      

    Perbedaan lingkungan, proses belajar, pengalaman dan tingkat pendidikan seseorang juga ikut mempertegas perbedaan itu.  
      
    Namun,  kita tidak bisa menutup mata dari realitas sejarah, pertumpahan darah dan pertikaian pernah terjadi atas nama kehormatan kelompok, batas kekuasaan, perbedaan suku dan budaya. Pada dekade terakhir, pembakaran rumah ibadah milik umat Kristiani di Aceh Singkil (2015), pembakaran Masjid di Tolikara (2015), pemboman 3 gereja di Surabaya (2018) adalah beberapa contoh tindakan brutal dan intoleran di Tanah air kita. Peristiwa memprihatinkan tersebut memperlihatkan sisi gelap wajah kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang belum cukup dewasa dalam menyikapi perbedaan. 

    Apakah perbedaan itu tentang garis batas? Antara kelompok yang satu dengan kelompok lain saling mengklaim yang terbaik, yang termaju. Kalau sudah begitu, harus ada kelompok yang kalah, harus ada kelompok yang terbelakang. Melewati garis batas orang lain adalah menelanjangi kehormatan pemiliknya. Lalu mempertahankan dan menjaga kehormatan adalah keharusan tanpa tawaran, harga diri dan nyawa adalah taruhannya. Pemenang mendapatkan jatah singa dan berhak mendapat keistimewaan, sisanya pasrah atas Takdir. 
    Rousseau pernah berkata, Manusia dilahirkan bebas, tapi di mana-mana ia dibelenggu. anehnya belenggu itu dibuat oleh manusia itu sendiri,  menemani kemanapun ia pergi, belenggu itu adalah garis batas. Manusia akhirnya tidak lagi bebas dan setara, ada banyak sekat-sekat dan pembatas. Kulit hitam tidak sama dengan kulit putih, kulit putih lebih unggul dari kulit coklat dan sebagainya. Secara jujur, disatu sisi, kita harus menilai keragaman sebagai bencana, entah karena belum cukup dewasa untuk menyikapi berbagai perbedaan, atau memang naluri manusia untuk saling menguasai.  

    Kendati demikian, permasalah keragaman dan cara menyikapinya harus dibicarakan secara jujur dan terbuka karena berkaitan dengan kelangsungan hidup bersama, yaitu sejarah perjalanan manusia terutama interaksi antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Sejauh yang penulis ketahui (tidak bermaksud pesimistis), perjalanan hidup manusia selalu diwarnai dengan konflik dan pergolakan, dari tingkatan individu sampai mengatasnamakan kelompok dan golongan. masalah utamanya selalu tentang egosentris untuk memperluas pengaruh dan menjaga dominasi. ketika dominasi kelompok terjadi seringkali menjadi alasan sistematis untuk menguasai ranah kekuasaan, peluang karir, membatasi bahkan memutuskan  akses kelompok lain. Tentu saja, persepsi yang terbangun mengenai keragaman dan cara menyikapinya berbeda-beda, dalam hal ini penulis (murni hasil refleksi) ingin melihat dalam perspektif agama (Islam), dimana agama menjadi bagian dari keragaman di Indonesia itu sendiri, yang tentu saja gesekan antara satu keyakinan dengan yang lainnya kerap terjadi. 

    Agama sebagai wahyu Ilahi, hadir dengan kebenaran mutlak, sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh Alam. Idealnya agama harus menjadi solusi untuk pemersatu dari sekat-sekat kelompok, Etnis, Ras, dan Budaya. Namun, Kenyataan yang perlu diakui, di dunia ini tidak hanya terdapat satu agama, setiap agama punya standar kebenarannya masing-masing, dengan konsep dan prakter yang berbeda pula. Hadirnya  agama yang diharapakan menjadi solusi untuk merangkul perbedaan justru menciptakan sekat baru dan masalah baru. Jika adanya demikian,  pertanyaannya, 

    Apakah kita masih membutuhkan agama? Menurut penulis, Tentu saja masih. Dalam sejarahnya Agama telah mempersatukuan banyak perbedaan, dari orang arab dengan azam,  Suku Jawa, Sunda, Minang, Papua, dll,  bisa bersatu atas nama agama (terlepas dari sentimen yang menyangkut suku dan sejarahnya). Yang diperlukan adalah memahami dengan benar konsep Agama yang diyakini beserta prakteknya. Karena secara Prinsip, setiap ajaran agama mengajarkan kedamaian, kebaikan universal, terlebih lagi terhadap sesama ummat Manusia.  Dalam hal ini Penulis sebagai seorang Muslim ingin menyikapi Keragaman dalam Perspektif Islam. 

    Salah satu agama yang sering dicap intoleran terhadap perbedaan adalah Islam, dalangnya tentu saja ulah sebagian oknum yang mengatasnamakan Islam. Nyatanya banyak dalil dalam Al-Quran justru menjunjung tinggi dan menghormati perbedaan. 

    Diantaranya Al-Qur’an menerangkan, bahwa manusia diciptakan dari seorang laki-laki dan perempuan, beraneka ragam Suku, Bangsa dan Bahasa seharusnya mendorong manusia untuk saling mengenal, dan saling menghargai (Al-Hujurat: 13). Perbedaan Suku, Agama, Ras dan Budaya (apalagi hanya masalah perbedaan pendapat) tidak seharusnya menjadikan kita saling menjatuhkan, justru Islam menganjuran untuk saling tolong menolong dalam kebaikan dan kemaslahatan bersama (Al-Maidah: 2). Karena yang paling mulia disisi Allah SWT bukanlah orang yang kulitnya putih, bukanlah orang yang budayanya maju, bukan pula yang jabatannya tinggi, yang paling mulia disisi Allah SWT adalah orang yang paling bertakwa (Al-Hujurat: 13). Etika dan akhlak dalam pergaulan juga perlu diperhatikan, tidak saling mengejek dan memperolok, tidak berprasangka buruk dan mencari-cari kesalahan orang lain merupakan perintah untuk saling menjaga nama baik (Al-Hujurat: 11-12).

    Kita senantiasa diperintahkkan untuk berlaku adil kepada siapapun, menimbang dan memutuskan seobjektif mungkin, jangan sampai karena membenci seseorang atau suatu kelompok,  menghalangi kita untuk berlaku adil (Al-Maidah: 8). Diperintahkan untuk memelihara nyawa manusia, tidak membunuh orang lain yang bukan karena berbuat kerusakan di Bumi. Maka memelihara nyawa manusia  sama dengan memelihara kehidupan semua manusia, sebaliknya  membunuh seorang manusia sama dengan membunuh semua manusia (Al-Maidah: 32). Kita wajib berbuat baik kepada siapapun, tanpa sekat-sekat keyakinan, Golongan tertentu, Suku bangsa, Budaya, partai Politik, bahkan kepada Makhluk Ciptaan Tuhan lainnya seperti Binatang dan Tumbuhan. Apapun yang kita lakukan di Dunia ini selalu berlandaskan pada sikap Tauhidik bukan semata-mata Dualistik.

    Di akhir tulisan ini, bersamaan dengan momen perayaan hari kemerdekaan negara kita tercinta yang ke 74, penulis ingin menyampaikan bahwa perbedaan merupakan keniscayaan yang harus disyukuri. Indonesia dibangun diatas perbedaan manusia juga lingkungannya. Bertoleransi, berempati dan saling memahami adalah perekat yang mampu membawa bangsa kita sejauh ini tetap bereksistensi. saling membuat garis batas (dalam kehidupan berbangsa dan bernegara) hanya akan membuat kita terpecah dan menghancurkan ke-Indonesiaan kita yang telah sama-sama kita bangun. 
    Momen perayaan hari kemerdekaan tentu bukan semata euforia sehari-dua hari saja, melainkan ajang untuk memperbaharui semangat ber-Indonesia. Membangun dialog interaktif yang terbuka dan jujur, visi bersama harus menjadi perhatian utama, agar kita terpacu untuk bahu membahu membawa Indonesia kita lebih unggul.  
    Wallahu a’lam

    Penulisa Merupakan Kabidor PC IMM Jaktim 2017/2018 dan Staff pengajaran Pesma Buya HAMKA Jakarta.