• Hari Lingkungan Hidup Dunia : Conect with Nature!

    H Syahrullah SH MH
    (Dosen STIH Muhammadiyah Bima
    World Environment Day atau Hari Lingkungan Hidup Sedunia diperingati setiap tanggal 5 Juni demi meningkatkan kesadaran global akan kebutuhan untuk mengambil tindakan lingkungan yang positif bagi perlindungan alam dan planet Bumi. Hari Lingkungan Hidup diperingati sejak tahun 1972 dan ditetapkan oleh Majelis Umum PBB.
    Tahun ini, Hari Lingkungan Hidup Sedunia mengusung tema yang bernama “biodiversity,” atau keanekaragaman hayati. Biasanya, ditandai  dengan menanam bibit tumbuhan atau cara lain, dengan pesan melestarikan lingkungan. 
    Peringatan hari lingkungan hidup sedunia, memiliki misi untuk mengajak penduduk bumi berinteraksi dengan alam, mengenali, dan menikmati keindahan alam sehingga tergeraklah keinginan untuk melindungi bumi. Akan tetapi, karena pandemi virus corona, peringatan tahun ini dilakukan melalui kampanye online. Ini adalah kampanye online pertama.
    Alam, nan elok indah nian dipandang mata. Pusaka bangsa Indonesia bagaikan gugusan jamrud di khatulistiwa.
    Sebagai tonggak sejarah tentang permasalah lingungan hidup di Indonesia ialah diselenggarakannya seminar “Pengelolaan Lingkungan hidup dan Pembangunan Nasional”, oleh Unpad Bandung, pada tanggal 15-18 Mei 1972.
    Seminar itu yang pertama kalinya diadakan di Indonesia. Seminar itu dihadiri oleh banyak ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi, pejabat pemerintah, cendekiawan dan tokoh masyarakat. Seminar Bandung itu dapat dianggap sebagai persiapan Indonesia untuk konperensi Stockholm. Yang mencetuskan adagium :”hanya dalam lingkungan hidup yang optmal, manusia dapat berkembang dengan baik, dan hanya dengan manusia yang baik lingkungan akan berkembang kearah yang optimal.”
    Hari lingkungan yang mengajak kita untuk berinteraksi dengan alam, ingin membangkitkan ingatan kita, bahwa menurut para ahli umur bumi kira-kira lebih dari 5 milyar tahun.
    Otto Soemarwoto, menggambarkan, pada mulanya dalam atmosfer bumi tidak terdapat oksigen (O2), sedangkan kadar karbondioksida (CO2) tinggi. Susunan kimia atmosfir dan kondisi lingkungan lainnya pada waktu itu menunjukkan belum adanya kehidupan di bumi, karena kondisi itu tidak memungkinkan adanya kehidupan. 
    Kira-kira empat setengah miliar tahun yang lalu mulailah terdapat air cair di permukaan bumi, Mulailah terbentuk kehidupan yang sederhana dalam bentuk molekul organik. antara lain juga yang mengandung zat hijau daun (klorofil). 
    Dengan adanya klorofil mulailah berlangsung fotosintesis di bumi. Dalam proses itu Makhluk yang berklorofil mengolah CO2, dengan menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi, menjadi karbohidrat dan terbentuk pula O2.Dengan makin berkembangnya organisme yang berklorofil proses fotosintesis pun makin berkembang. Dengan demikian kadar CO2 dalam atmosfer berkurang dan kadar O2 bertambah.
    Proses ini selanjutnya memungkinkan terbentuknya lapisan ozon di atmosfer atas (stratosfer), sehingga bumi terlindung dari sinar matahari bergelombang pendek yang mematikan makhluk hidup.  Dengan adanya perlindungan lapisan ozon kehidupan tidak hanya dapat berkembang di dalam lapisan air yang dalam, yang melindungi makhluk hidup dari penyinaran gelombang pendek matahari oleh lapisan air yang tebal, melainkan juga di lapisan air yang atas. Bahkan dengan makin sempurnanya perlindungan lapisan ozon kehidupan dapat pula berlangsung di daratan.
    Kenaikan kadar O2 dalam atmosfer memungkinkann pula berkembangnya organisme hidup aerob, yaitu organisme yang membutuhkan O2 untuk kehidupannya. Lambat laun bentuk kehidupanpun  makin kompleks. Dari organisme bersel satu berkembanglah organisme bersel banyak, dengan bermacam organ yang  tersusun dalam struktur yang teratur. Organ-organ dalam tubuh itu bekerja sama dengan rapi sebagai suatu kesatuan sistem.
    Demikianlah Kehidupan dimulai di dalam air dalam,  dan lambat laun menyebar ke lapisan air yang atas, dan akhirnya ke daratan. Hal ini dimungkinkan oleh lapisan ozon yang terbentuk sebagai hasil samping proses fotosintesis.  Nampaklah makhluk hidup itu  membentuk lingkungan hidupnya, tetapi sebaliknya makhluk hidup  itu ada karena lingkungan hidupnya.
    Terbentuknya  lingkungan hidup tidak terjadi secara linier lurus. Misalnya pada waktu-waktu tertentu terjadi peristiwa geologi yang besar, yang  melipat permukaan bumi Sehingga terbentuklah gunung-gunung dan aktivitas vulkanis. 
    Dengan proses itu tersingkaplah batu-batuan dari lapisan dalam  yang lalu bersentuhan dengan atmosfer dan mengalami oksidasi. Proses oksidasi besar-besaran itu menurunkan kadar O2 dalam atmosfer. Karena itu pada setiap orogenesis, yaitu proses pembentukann pegunungan yang kadang-kadang meningkat dan kadang-kadang menurun, terjadilah pula fluktuasi kadar O2 dalam atmosfer. Tidaklah mustahil fluktuasi ini mengakibatkan pula fluktuasi dalam lapisan Ozon sehingga derajat perlindungan bumi dari sinar matahari bergelombang pendek oleh lapisan ozon juga berfluktuasi, iklim pun berubah-ubah.
    Perubahan yang besar  dalam lingkungan hidup mempengaruhi kehidupan makhluk hidup. Dalam sejarah bumi kita, telah tercatat punahnya nya  beribu jenis hewan dan tumbuhan. misalnya dinosaurus, hewan melata (reptilia) zaman purba yang banyak jenisnya, telah punah lebih dari 60 juta tahun yang lalu. Nenek moyang manusia pun kata Otto Soemarwoto,yaitu manusia  Australopithecus Africanus  dan A robustus di Afrika, Homo erectus, antara lain yang diketemukan di Afrika, Jawa dan Cina manusia neanderthal di Eropah dan Timur Tengah serta manusia primitif Solo di jawa, telah punah. Apa sebab kepunahan mereka, tidaklah diketahui dengan pasti.  Kita hanyalah dapat menerka  mereka punah mungkin  karena bencana alam, perubahan iklim, wabah penyakit, kalah bersaing dengan makhluk lain atau kombinasi faktor-faktor itu yang kesemuanya  merupakan masalah lingkungan.
    Al Qur’an, menukilkan contoh  masalah lingkungan, yakni peristiwa datangnya banjir besar yang di hadapi  Nabi Nuh, sehingga meluluhlantakan umatnya.
    Runtuhnya Pompei, oleh letusan gunung berapi yang dahsyat dalam tahun 79. Eropah pada abad ke-14 dilanda oleh wabah Pes yang menewaskan beribu-ribu orang. Dalam abad ke-19  London dan banyak kota industri telah mengalami masalah asbut (asap kabut) yang disebabkan oleh pembakaran batubara untuk pemanasan rumah dan proses dalam industri.
    Kita lihat pula bumi itu tidaklah statis melainkan dinamis dan dengan terus-menerus mengalami perubahan. Kini pun perubahan itu  masih terus berlangsung kontinen-kontinen bergerak, gempa bumi terjadi, gunung berapi meletus angin Taufan mengamuk serta musim kemarau dan musim hujan yang abnormal terjadi.  
    Perubahan itu  hanyalah sebagian saja yang disebabkan oleh manusia letusan Gunung Tambora 1815 adalah peristiwa alam yang terjadi  sama sekali diluar pengaruh manusia.
    Orang beranggapan  permasalahan lingkungan terjadi, karena kemajuan teknologi. Ya, Namun faktor yang sangat penting dalam permasalahan lingkungan adalah  besarnya populasi manusia. Dengan pertumbuhan populasi manusia yang cepat kebutuhan akan pangan sandang dan papan bertambah dengan cepat pula.
    Pertumbuhan populasi ini telah mengakibatkan perubahan yang besar dalam lingkungan hidup terutama di negara-negara berkembang yang tingkat ekonomi dan teknologinya masih rendah.
    Kerusakan hutan dan Tata air yang disertai kepunahan tumbuhan dan hewan dan erosi tanah yang disertai sanitasi yang buruk yang menyebabkan berkecamuknya penyakit infeksi dan parasit merupakan masalah lingkungan  yang mencekam.
    Tidak jarang terjadi ledakan penyakit kolera, malaria yang merenggut banyak jiwa manusia.Mungkin saja Corona Covid-19 juga diakibatkan oleh masalah lingkungan yang buruk. 
    Masalah-maalah lingkungan di atas, menjadi bahan renungan kita semua, mari kita kembali bersahabat dengan alam, berinteraksi dengan flora, bercengkrama dengan fauna. “Connect with Nature”.- “Connect with Nature”; 
    C o n n e c t… w i t h… N a t u r e …!