• MENEROPONG POTENSI GAROSO MBOJO

    Syahruna
    GAROSO MBOJO yang dalam bahasa latinnya disebut Annona squamosa. Buah Garoso ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi kesehatan. Ia mengandung vitamin, kaya zat antioksida dan mampu menyingkirkan radikal bebas dalam tubuh. Buah ini juga kaya akan kalsium, magnesium, besi, niasin, dan potasium. 
    Begitu banyak kandungan dalam Garoso Mbojo ini yang banyak ditulis di beberapa artikel. Termasuk artikel yang saya baca di merdeka.com. 
    Buah yang lezat, manis dan lembut ini merupakan buah khas daerah Bima. Manfaatnya sangat banyak. Diantaranya dapat membantu pencernaan, mengurangi morning sickness, membangun saraf janin, menguatkan tulang dan mengurangi nyeri, membantu sistem pernapasan, menurunkan tekanan darah tinggi, anti peradangan dan mencegah kanker. 
    Sebagaimana dipahami masyarakat Bima melihat bahwa pohon dan akar Buah Garoso sangat kuat. Ia mampu menahan air di kala musim hujan. Dan Garoso tidak seperti jagung. Hijau sesaat lalu meninggalkan derita lebih lama bagi bumi.
    Melihat kondisi alam Bima pada umumnya, Garoso Mbojo dapat menjadi komoditas andalan jika dikelola dengan baik. Bahkan dapat meningkatkan PAD 5 kali lipat, jika perhatian kita fokus pada pengelolaan komoditas ini. 

    Bagaimana caranya? Konsepnya harus diubah. Kebiasaan Petik-Jual perlu dipertimbangkan ulang. 
    Untuk itu Pemerintah dan NGO harus melakukan edukasi kepada para petani Garoso Mbojo. Bahwa kebiasaan Petik- Jual tidak menguntungkan para petani. 
    Menurur hemat penulis bahwa kebiasaan Petik-Jual harus diganti dengan Konsep Petik-Olah-Jual. 
    Namun yang menjadi persoalannya adalah Petik dan Olah. Untuk menjualnya cukup mudah. Siapa saja bisa menjual buah ini.
    Konsep Petik butuh pohon Garoso yang mempunyai buah dan berkualitas baru bisa dipetik. 
    Nah yang kita butuhkan sekarang adalah lahan Garoso yang luasnya sekitar 10 hektar. Garoso ini harus direkayasa agar bijinya dikurangi. Dagingnya dipertebal, empuk, dan manis. 
    Punya Garoso di lahan 10 hektar cukup untuk diolah. Pengolahannya harus menjadi menuman segar rasa Garoso. Sulawesi Selatan sudah melakukannya. Komoditas  markisa menjadi andalan mereka. Pemerintah Sulsel memberi dorongan untuk kemajuan Home Industries Minuman Sari Markisa. Setiap pengunjung daerah ini pasti oleh olehnya adalah minuman sari Markisa. Produknya  bervariasi, ada yang memakai botol, jerigen, galon, dan minuman saset rasa markisa dengan harga hanya 3000-an rupiah. 
    Dari hasil satu produk markisa, banyak masyarakat terbantu dalam upaya peningkatan ekonominya. Begitu pula seharusnya  dilakukan oleh kita di Bima. Baik masyarakat maupun Pemerintah Daerah Bima,  Kota dan Kabupaten Bima. 
    Penulis tidak bisa membayangkan betapa sejahteranya masyarakat dan Pemerintah Daerah Bima jika komoditas ini diolah sebagai minuman segar sari Garoso Mbojo. 
    Tidak perlu produk yang besar, cukup berbentuk saset dapat membantu masyarakat meningkatkan pendapatannya menjadi sejahtera.
    Coba kita bayangkan jika harga minuman segar sari Garoso Mbojo berbentuk saset yang harganya hanya Rp.3000 per-saset. Kemudian diminum oleh satu juta orang di NTB dalam satu minggu akan menghasilkan 3 Miliyar dalam satu Minggu. 
    Sungguh luar biasa Garoso Mbojo ini. Kalau dikelola dengan konsep Petik-Olah -Jual akan dapat membantu peningkatan PAD dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 
    Semoga kita bisa memulainya. Apakah sekarang atau tahun depan ? Itu tidak menjadi masalah. Yang penting kita sudah mempunyai niat untuk membangun pabrik minuman segar Sari Garoso Mbojo. Semoga. (*)