Dikbudpora Dompu Dorong Sekolah Kembangkan Inovasi Literasi Al-Qur’an
![]() |
| Kabid Pendidikan Dasar (Dikdas) Dikbudpora Kabupaten Dompu, H. Nurdin, saat kegiatan lomba sekolah inovasi program literasi Al-Qur’an. |
Dompu, Zona Rakyat.-Dinas Pendidikan, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Dikbudpora) Kabupaten Dompu mendorong kepala sekolah dan guru untuk lebih inovatif dalam
mengembangkan program literasi Al-Qur’an di satuan pendidikan.
Dorongan tersebut diwujudkan melalui Lomba Sekolah Inovasi Program Literasi Al-Qur’an yang dibuka di Aula Dikpora Kabupaten Dompu, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Menumbuhkan Generasi Qurani Menuju Dompu Maju.”
Program tersebut diarahkan untuk membangun budaya sekolah yang berkarakter Qurani sekaligus mengapresiasi kreativitas warga sekolah dalam mengembangkan praktik baik literasi Al-Qur’an. Tujuan lomba antara lain meningkatkan inovasi kepala sekolah dan guru, menggali ide-ide inovatif dalam kegiatan bernuansa Qurani, serta mewujudkan budaya sekolah yang berkarakter Qurani.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dikbudpora Kabupaten Dompu, H. Nurdin, mengatakan, penguatan literasi Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik. Menurutnya, persoalan kenakalan remaja juga perlu diantisipasi melalui kegiatan positif dan pembinaan keagamaan di lingkungan sekolah.
“Kenakalan remaja salah satunya karena anak-anak tidak bisa mengaji. Hari Jumat, ada siswa yang justru berkeliaran. Karena itu, melalui surat edaran Bupati, Jumat Mengaji menjadi kewajiban bagi sekolah untuk melaksanakan program literasi Al-Qur’an,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan literasi Al-Qur’an di sekolah tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh siswa. Kemampuan peserta didik perlu dipetakan agar pembelajaran dapat diberikan sesuai tingkat kemampuan masing-masing.
“Anak-anak dibagi berdasarkan kemampuan mengajinya. Jadi, mereka diajarkan mengaji sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, pola tersebut menjadi langkah awal dalam membangun program literasi Al-Qur’an yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Bukan Sekadar Bisa Mengaji
Lomba Sekolah Inovasi Program Literasi Al-Qur’an menegaskan bahwa literasi Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an. Program tersebut juga mencakup pemahaman isi kandungan Al-Qur’an serta pengembangan kreativitas peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai Qurani dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, lomba ini diarahkan untuk menggali berbagai praktik baik yang telah diterapkan sekolah, baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Kategori lomba mencakup sekolah Islam Terpadu dan madrasah serta sekolah umum/negeri.
Setiap sekolah mengirimkan satu tim yang merupakan kolaborasi antara kepala sekolah dan guru. Praktik baik yang dikirimkan harus merupakan program yang telah diimplementasikan di lingkungan sekolah dan dibuktikan melalui portofolio berupa naskah, video, serta dokumen pendukung.
Penilaian lomba juga tidak semata-mata melihat kemampuan peserta dalam menyajikan program. Aspek yang dinilai meliputi kreativitas dan inovasi sebesar 30 persen, keberlanjutan program 25 persen, manfaat dan dampak 25 persen, serta presentasi 20 persen.
Baru 11 Sekolah yang Berpartisipasi
Di sisi lain, H. Nurdin menyoroti masih rendahnya jumlah sekolah yang mengikuti lomba inovasi tersebut.
Dari lebih dari 300 sekolah di Kabupaten Dompu, baru 11 sekolah yang mendaftarkan diri dalam program inovasi literasi Al-Qur’an.
“Kita mempertanyakan mengapa masih banyak sekolah yang tidak mendaftar. Padahal, kita juga menghadapi persoalan tingkat literasi dan numerasi yang masih rendah. Ini menjadi perhatian kita bersama,” imbuhnya.
Ia menilai rendahnya partisipasi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Sebab, inovasi sekolah tidak hanya diperlukan untuk memenuhi tuntutan program, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.
“Ke depan, pihak dinas akan mengevaluasi sekolah-sekolah yang kurang inovatif,” tegas Nurdin.
Sesuai juknis, proses lomba dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penilaian administrasi, penilaian substansi, verifikasi dan validasi melalui wawancara, hingga gelar wicara. Lima peserta atau kelompok terbaik akan mengikuti tahap wawancara, sedangkan gelar wicara dilaksanakan secara tatap muka di Aula Dikpora Kabupaten Dompu.
Adapun penetapan tiga peserta terbaik dijadwalkan pada 17 Agustus 2026.
Melalui lomba tersebut, Dikbudpora Dompu berharap semakin banyak sekolah berani melahirkan program literasi Al-Qur’an yang kreatif, kontekstual, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi warga sekolah.
Pada akhirnya, interaksi dengan Al-Qur’an diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah sehingga nilai-nilai Qurani menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. (ZR4)
Dorongan tersebut diwujudkan melalui Lomba Sekolah Inovasi Program Literasi Al-Qur’an yang dibuka di Aula Dikpora Kabupaten Dompu, Sabtu (15/8/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Menumbuhkan Generasi Qurani Menuju Dompu Maju.”
Program tersebut diarahkan untuk membangun budaya sekolah yang berkarakter Qurani sekaligus mengapresiasi kreativitas warga sekolah dalam mengembangkan praktik baik literasi Al-Qur’an. Tujuan lomba antara lain meningkatkan inovasi kepala sekolah dan guru, menggali ide-ide inovatif dalam kegiatan bernuansa Qurani, serta mewujudkan budaya sekolah yang berkarakter Qurani.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Dikdas) Dikbudpora Kabupaten Dompu, H. Nurdin, mengatakan, penguatan literasi Al-Qur’an menjadi bagian penting dalam membentuk karakter peserta didik. Menurutnya, persoalan kenakalan remaja juga perlu diantisipasi melalui kegiatan positif dan pembinaan keagamaan di lingkungan sekolah.
“Kenakalan remaja salah satunya karena anak-anak tidak bisa mengaji. Hari Jumat, ada siswa yang justru berkeliaran. Karena itu, melalui surat edaran Bupati, Jumat Mengaji menjadi kewajiban bagi sekolah untuk melaksanakan program literasi Al-Qur’an,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaksanaan literasi Al-Qur’an di sekolah tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang sama untuk seluruh siswa. Kemampuan peserta didik perlu dipetakan agar pembelajaran dapat diberikan sesuai tingkat kemampuan masing-masing.
“Anak-anak dibagi berdasarkan kemampuan mengajinya. Jadi, mereka diajarkan mengaji sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, pola tersebut menjadi langkah awal dalam membangun program literasi Al-Qur’an yang lebih terarah dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Bukan Sekadar Bisa Mengaji
Lomba Sekolah Inovasi Program Literasi Al-Qur’an menegaskan bahwa literasi Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis Al-Qur’an. Program tersebut juga mencakup pemahaman isi kandungan Al-Qur’an serta pengembangan kreativitas peserta didik dalam mengamalkan nilai-nilai Qurani dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, lomba ini diarahkan untuk menggali berbagai praktik baik yang telah diterapkan sekolah, baik melalui kegiatan intrakurikuler, kokurikuler maupun ekstrakurikuler. Kategori lomba mencakup sekolah Islam Terpadu dan madrasah serta sekolah umum/negeri.
Setiap sekolah mengirimkan satu tim yang merupakan kolaborasi antara kepala sekolah dan guru. Praktik baik yang dikirimkan harus merupakan program yang telah diimplementasikan di lingkungan sekolah dan dibuktikan melalui portofolio berupa naskah, video, serta dokumen pendukung.
Penilaian lomba juga tidak semata-mata melihat kemampuan peserta dalam menyajikan program. Aspek yang dinilai meliputi kreativitas dan inovasi sebesar 30 persen, keberlanjutan program 25 persen, manfaat dan dampak 25 persen, serta presentasi 20 persen.
Baru 11 Sekolah yang Berpartisipasi
Di sisi lain, H. Nurdin menyoroti masih rendahnya jumlah sekolah yang mengikuti lomba inovasi tersebut.
Dari lebih dari 300 sekolah di Kabupaten Dompu, baru 11 sekolah yang mendaftarkan diri dalam program inovasi literasi Al-Qur’an.
“Kita mempertanyakan mengapa masih banyak sekolah yang tidak mendaftar. Padahal, kita juga menghadapi persoalan tingkat literasi dan numerasi yang masih rendah. Ini menjadi perhatian kita bersama,” imbuhnya.
Ia menilai rendahnya partisipasi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi. Sebab, inovasi sekolah tidak hanya diperlukan untuk memenuhi tuntutan program, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjawab berbagai persoalan pendidikan dan pembentukan karakter peserta didik.
“Ke depan, pihak dinas akan mengevaluasi sekolah-sekolah yang kurang inovatif,” tegas Nurdin.
Sesuai juknis, proses lomba dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penilaian administrasi, penilaian substansi, verifikasi dan validasi melalui wawancara, hingga gelar wicara. Lima peserta atau kelompok terbaik akan mengikuti tahap wawancara, sedangkan gelar wicara dilaksanakan secara tatap muka di Aula Dikpora Kabupaten Dompu.
Adapun penetapan tiga peserta terbaik dijadwalkan pada 17 Agustus 2026.
Melalui lomba tersebut, Dikbudpora Dompu berharap semakin banyak sekolah berani melahirkan program literasi Al-Qur’an yang kreatif, kontekstual, berkelanjutan, dan memberikan dampak nyata bagi warga sekolah.
Pada akhirnya, interaksi dengan Al-Qur’an diharapkan tidak berhenti pada kemampuan membaca, tetapi menjadi bagian dari budaya sekolah sehingga nilai-nilai Qurani menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. (ZR4)




.jpg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar