Langkah Kecil “Anak Guru” Raih Gelar Doktor Predikat Summa Cumlaude
![]() |
| Taman Firdaus, Dosen UM Bima dan guru SMAN 4 Kota Bima yang baru saja meraih gelar doktor dengan predikat "Summa Cumlaude" Undiksha Bali. |
Buleleng, Zona Rakyat.-Prestasi akademik membanggakan ditorehkan Taman Firdaus, dosen Universitas Muhammadiyah (UM) Bima yang juga guru di SMA Negeri 4 Kota Bima. Ia resmi meraih gelar doktor dengan predikat “summa cumlaude” usai mempertahankan disertasinya pada sidang terbuka Program Studi Teknologi Pendidikan, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Bali, Kamis (04/08/2026), yang digelar di aula kampus setempat.
Ujian terbuka tersebut dipimpin oleh tim promotor yang terdiri atas Prof. Dr. I Wayan Santyasa, M.Si. sebagai promotor, didampingi Prof. Dr. I Komang Sudarma, S.Pd., M.Pd. sebagai Ko-Promotor I, serta Prof. Dr. I Gde Wawan Sudatha, S.Pd., S.T., M.Pd. sebagai Ko-Promotor II.
Disertasi berjudul “Pengaruh Model Inquiry Flipped Learning (Ifl) dan Kesiapan Belajar Terhadap Keterampilan Berpikir Kritis dan Kolaborasi Peserta Didik Pada Mata Pelajaran Pendidikan Pancasila Kelas X SMA Negeri 4 Kota Bima” ini tidak hanya menjadi refleksi perjalanan akademiknya, tetapi juga menyuguhkan temuan ilmiah penting terkait inovasi pembelajaran di sekolah.
Soroti Kelemahan Pembelajaran Konvensional
Dalam pemaparannya, Taman Firdaus menekankan bahwa praktik pembelajaran di sekolah masih didominasi pendekatan konvensional yang berpusat pada guru. Kondisi ini dinilai berdampak pada rendahnya keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa.
“Pembelajaran tidak boleh lagi sekadar transfer pengetahuan. Siswa harus dilibatkan secara aktif dalam proses berpikir, berdiskusi, dan membangun pemahaman bersama,” ujarnya dalam sidang promosi doktor.
Sebagai guru di SMAN 4 Kota Bima, ia mengaku mengalami langsung tantangan tersebut di ruang kelas, yang kemudian mendorongnya melakukan penelitian berbasis praktik nyata.
Uji Efektivitas Inquiry Flipped Learning
Penelitian yang dilakukan mengkaji perbandingan antara model inquiry flipped learning dengan direct instruction pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila kelas X di SMA Negeri 4 Kota Bima.
Model inquiry flipped learning menggabungkan pembelajaran mandiri sebelum kelas dengan aktivitas inkuiri dan kolaborasi saat tatap muka. Siswa diminta mempelajari materi lebih awal, kemudian mendiskusikan, menganalisis, dan memecahkan masalah secara bersama di kelas.
“Model ini memberi ruang bagi siswa untuk menguji ide, membangun argumen, dan berkolaborasi. Di situlah keterampilan abad 21 tumbuh,” kata Taman Firdaus.
Temuan: Perbedaan Signifikan, Tapi Tanpa Interaksi
Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan signifikan antara penggunaan model inquiry flipped learning dan direct instruction terhadap keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa. Selain itu, terdapat pula perbedaan antara siswa yang memiliki kesiapan belajar tinggi dan rendah terhadap kedua keterampilan tersebut .
Namun demikian, penelitian ini juga menemukan bahwa tidak terdapat pengaruh interaktif antara model pembelajaran dan kesiapan belajar siswa terhadap kedua variabel tersebut .
Temuan ini menunjukkan bahwa efektivitas model pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada tingkat kesiapan belajar siswa.
“Tidak adanya interaksi ini mengindikasikan bahwa model pembelajaran memiliki pengaruh yang relatif independen. Artinya, peningkatan keterampilan siswa tetap bisa dicapai tanpa harus bergantung pada kategori kesiapan belajar,” jelasnya.
Peran Kesiapan Belajar
Meski tidak berinteraksi langsung dengan model pembelajaran, kesiapan belajar tetap menjadi faktor penting. Siswa dengan kesiapan tinggi terbukti lebih mampu mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi karena memiliki kemampuan regulasi diri yang lebih baik.
Dalam disertasinya disebutkan bahwa siswa dengan kesiapan tinggi cenderung mampu mengelola proses belajar secara mandiri, mulai dari perencanaan hingga evaluasi pembelajaran .
Implikasi bagi Dunia Pendidikan
Disertasi ini merekomendasikan agar sekolah dan guru mulai mengadopsi model pembelajaran yang lebih variatif dan berpusat pada siswa, seperti inquiry flipped learning, guna meningkatkan kualitas pembelajaran.
Selain itu, penelitian lanjutan disarankan untuk memasukkan variabel lain seperti motivasi, gaya belajar, dan literasi digital sebagai faktor yang berpotensi memengaruhi hasil belajar siswa .
“Pembelajaran harus dirancang fleksibel dan adaptif. Guru tidak hanya mentransfer pengetahuan, tetapi memfasilitasi proses berpikir dan kolaborasi siswa,” tutup Taman Firdaus.
Capaian ini menjadi bukti bahwa langkah kecil yang konsisten, terutama dari seorang “anak guru”, mampu mengantarkan pada prestasi akademik tertinggi sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan. (ZR3)




.jpg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar