• Breaking News

    Peringati HUT ke-81 RI, MAPALA PTMA se-NTB-NTT Siapkan Pemanjatan Tebing 130 Meter

    Mahasiswa Pencinta Alam 

    Bima, Zona Rakyat.-
    Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA) Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (PTMA) se-NTB-NTT akan menggelar Latihan Gabungan (LATGAB) Rock Climbing sekaligus pengibaran Bendera Merah Putih di Tebing Trolu, Kecamatan Hu’u, Kabupaten Dompu.

    Kegiatan yang berlangsung pada 14-17 Agustus 2026 itu akan diwarnai aksi pemanjatan tebing alam setinggi sekitar 130 meter. Puncak kegiatan dijadwalkan pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.

    LATGAB tersebut tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan kepencintaalaman dan olahraga panjat tebing, tetapi juga menjadi ruang pembinaan generasi muda melalui aktivitas yang produktif, disiplin, penuh tanggung jawab, serta memiliki nilai kemanusiaan.

    Ketua Panitia LATGAB, Nurhayati, mengatakan kegiatan tersebut dirancang sebagai ruang positif bagi mahasiswa dan generasi muda untuk mengembangkan kemampuan sekaligus membangun lingkungan pergaulan yang sehat.

    "Kegiatan ini bukan hanya tentang olahraga panjat tebing. Kami ingin menyediakan ruang yang positif bagi generasi muda untuk belajar, berlatih, bekerja sama, dan mengembangkan diri. Harapannya, energi dan waktu anak muda dapat diarahkan kepada kegiatan yang bermanfaat, sehingga mereka memiliki alternatif dari aktivitas yang kurang memberikan manfaat,” ujar Nurhayati.

    Menurut dia, kegiatan kepencintaalaman memiliki relevansi dalam pembinaan generasi muda di tengah berbagai tantangan sosial. Generasi muda, kata dia, tidak cukup hanya diarahkan untuk menjauhi aktivitas negatif, tetapi juga perlu diberikan pilihan kegiatan yang menarik, sehat, dan mampu mengembangkan potensi mereka.

    Karena itu, LATGAB tersebut secara khusus diarahkan menjadi salah satu media preventif dalam menghadirkan ruang kegiatan yang dapat menjauhkan generasi muda dari pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba, konsumsi minuman keras, maupun aktivitas lain yang berpotensi merugikan masa depan.

    “Melalui kegiatan alam bebas, olahraga, organisasi, dan kerja sama lintas perguruan tinggi, peserta tidak hanya mendapatkan keterampilan teknis, tetapi juga belajar tentang disiplin, tanggung jawab, kerja sama, dan pengendalian diri,” katanya.

    Bekal Keterampilan Rescue

    Dalam pelaksanaannya, peserta LATGAB akan mendapatkan materi dan praktik kepencintaalaman, antara lain free climbing, teknik alpine, multi pitch, hingga vertical rescue.

    Materi juga mencakup pengenalan dan penggunaan peralatan, alat pelindung diri, prosedur keselamatan, evaluasi, serta simulasi gabungan.

    Nurhayati mengatakan kemampuan tersebut penting karena panjat tebing bukan sekadar aktivitas olahraga, melainkan juga membutuhkan keberanian, konsentrasi, kedisiplinan, kemampuan mengendalikan diri, serta tanggung jawab terhadap keselamatan diri dan anggota tim.

    Selain meningkatkan kapasitas teknis, LATGAB menjadi momentum memperkuat solidaritas dan soliditas antar-MAPALA PTMA se-NTB-NTT. Pertemuan lintas perguruan tinggi tersebut diharapkan berkembang menjadi jejaring kerja sama yang berkelanjutan dalam bidang kepencintaalaman, olahraga, lingkungan, pendidikan karakter, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

    "Kerja sama ini penting karena pembinaan generasi muda tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang bertemunya organisasi-organisasi MAPALA untuk saling belajar dan membangun kegiatan positif bersama. Mudah-mudahan ke depan semakin banyak kolaborasi yang bisa kita lakukan,” katanya.

    UM Bima Dukung Pengembangan Karakter Mahasiswa

    Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Bima, Dr. Hajairin, S.H., M.H., mengapresiasi pelaksanaan LATGAB tersebut. Menurutnya, kegiatan yang memadukan olahraga, kepencintaalaman, kebersamaan, dan pembentukan karakter sejalan dengan upaya perguruan tinggi dalam membangun mahasiswa yang religius dan humanis.

    “Kami mengapresiasi kegiatan ini karena sejalan dengan visi dan misi Universitas Muhammadiyah Bima dalam membangun mahasiswa yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki karakter yang religius dan humanis. Kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dari proses pembinaan mahasiswa karena mengajarkan kedisiplinan, tanggung jawab, kebersamaan, kepedulian, dan kemampuan menghadapi tantangan,” ujar Dr. Hajairin.

    Ia menilai mahasiswa perlu diberikan ruang yang luas untuk mengembangkan potensi melalui aktivitas di luar ruang akademik. Kegiatan kepencintaalaman, kata dia, dapat menjadi sarana membangun karakter sekaligus memperkuat hubungan sosial antarmahasiswa dan masyarakat.

    “Mahasiswa perlu diberikan ruang untuk berkegiatan, berorganisasi, mengembangkan potensi, dan membangun hubungan sosial yang sehat. Karena itu, kegiatan seperti ini perlu kita dukung agar dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi mahasiswa maupun masyarakat,” lanjutnya.

    MDMC: MAPALA Punya Peran Strategis dalam Kemanusiaan

    Apresiasi juga disampaikan Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Amiruddin, S.Sos., M.H. Ia menilai LATGAB memiliki nilai strategis dalam meningkatkan kapasitas mahasiswa, terutama dalam kemampuan rescue, evakuasi, dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    Menurut Amiruddin, MAPALA selama ini memiliki pengalaman dan kontribusi penting dalam kerja-kerja kemanusiaan, khususnya operasi pencarian dan pertolongan atau SAR serta evakuasi.

    "Kami di MDMC sangat mengapresiasi kegiatan ini karena sarat dengan penguatan kapasitas mahasiswa, terutama dalam kemampuan rescue. MAPALA kami kenal sebagai salah satu pionir dalam kegiatan kemanusiaan, terlebih dalam operasi SAR dan evakuasi. Karena itu, latihan seperti ini sangat penting untuk terus memperkuat kemampuan mereka agar semakin siap ketika dibutuhkan dalam situasi kebencanaan,” ujar Amiruddin.

    Ia menegaskan, kemampuan rescue tidak semata-mata merupakan keterampilan teknis, tetapi juga bentuk kesiapan mahasiswa untuk mengambil peran ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.

    Amiruddin juga mengapresiasi kiprah MAPALA SYMPEL “Ibnu Jazirah” Universitas Muhammadiyah Bima yang selama ini terlibat dalam sejumlah kegiatan kemanusiaan.

    “Kami mengenal MAPALA SYMPEL ‘Ibnu Jazirah’ UM Bima sebagai organisasi yang selama ini hadir dalam berbagai kegiatan kemanusiaan. Mereka dikenal sebagai relawan dalam penanganan banjir Bima, terlibat dalam operasi SAR pencarian Kifen, orang yang hilang di kawasan Gunung Sangiang, dan juga pernah menjadi bagian dari relawan dalam berbagai kejadian bencana di daerah lain,” katanya.

    Menurut Amiruddin, pengalaman tersebut perlu terus diikuti dengan latihan dan peningkatan kapasitas secara berkelanjutan. Medan kebencanaan membutuhkan relawan yang tidak hanya memiliki kepedulian, tetapi juga keterampilan teknis, kemampuan bekerja dalam tim, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi risiko.

    “Harapan kami, kegiatan seperti ini terus mendapat dukungan. Karena ketika mahasiswa memiliki kapasitas rescue yang baik, pada saat terjadi bencana mereka bukan hanya menjadi penonton, tetapi dapat hadir sebagai bagian dari solusi dan membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujarnya.

    Ia juga menilai kolaborasi MAPALA PTMA se-NTB-NTT menjadi kekuatan penting dalam membangun jejaring kesiapsiagaan dan kapasitas relawan kemanusiaan di daerah.

    Kibarkan Merah Putih di Tebing 130 Meter

    Rangkaian kegiatan LATGAB akan diawali dengan persiapan lokasi dan peralatan, latihan serta pembekalan teknis, briefing akhir, hingga pelaksanaan pemanjatan.

    Pada 17 Agustus 2026, peserta dijadwalkan melakukan pemanjatan tebing alam sekaligus pengibaran Bendera Merah Putih di ketinggian sekitar 130 meter.

    Pengibaran Merah Putih di tebing tersebut diharapkan menjadi simbol semangat generasi muda dalam mengisi kemerdekaan melalui kegiatan yang produktif, menantang, dan bermanfaat. Kegiatan juga diarahkan untuk menanamkan nilai nasionalisme, patriotisme, kedisiplinan, kerja sama, serta kecintaan terhadap tanah air.

    Setelah seluruh rangkaian selesai, peserta akan melakukan dokumentasi, penutupan, pembongkaran perlengkapan, dan pembersihan lokasi sebagai bagian dari komitmen menjaga kelestarian lingkungan.

    Nurhayati berharap kegiatan tersebut mendapat dukungan dari masyarakat, pemerintah, komunitas, organisasi kepemudaan, dunia usaha, dan berbagai pihak lainnya.

    “Kami sangat berharap dukungan dari masyarakat dan semua pihak. Dukungan tidak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga dukungan moral, partisipasi, dan kepercayaan bahwa anak-anak muda perlu diberikan ruang untuk berkegiatan secara positif. Kalau kegiatan seperti ini semakin banyak mendapat dukungan, tentu semakin banyak pula ruang yang bisa kita hadirkan untuk generasi muda,” ujarnya.

    Ia berharap LATGAB tidak berhenti sebagai agenda seremonial dalam memperingati hari kemerdekaan, tetapi dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih panjang untuk menghadirkan ruang-ruang positif bagi generasi muda.

    “Kami berharap ke depan kegiatan seperti ini mendapat support yang lebih besar dan semakin banyak pihak yang terlibat. Tujuannya bukan hanya agar kegiatan kami sukses, tetapi agar semakin banyak kegiatan positif yang bisa menjadi pilihan bagi anak muda, sehingga waktu dan energi mereka dapat diarahkan kepada hal-hal yang produktif dan bermanfaat,” tambah Nurhayati.

    Bagi panitia, pemanjatan tebing setinggi 130 meter bukan semata-mata tentang keberanian mencapai ketinggian. Kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa generasi muda membutuhkan tantangan yang sehat, lingkungan pergaulan yang positif, kesempatan mengembangkan diri, serta keterampilan yang dapat digunakan untuk membantu sesama.

    “Mencegah kerusakan moral dan sosial generasi muda tidak cukup hanya dengan mengatakan ‘jangan’. Pencegahan juga harus dilakukan dengan menghadirkan pilihan-pilihan yang membuat mereka mampu mengatakan, ‘Saya memilih melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat.’ Bahkan lebih jauh, kegiatan positif tersebut dapat membentuk generasi muda yang bukan hanya mampu menjaga dirinya dari pengaruh negatif, tetapi juga mampu hadir dan berguna ketika masyarakat menghadapi persoalan kemanusiaan dan bencana,” tutup Nurhayati.

    LATGAB Rock Climbing dan Pengibaran Bendera Merah Putih MAPALA PTMA se-NTB-NTT diharapkan menjadi contoh bahwa olahraga, kepencintaalaman, organisasi, keterampilan rescue, dan kolaborasi dapat berjalan beriringan sebagai bagian dari pembinaan generasi muda.

    Lebih dari sekadar agenda mahasiswa, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk membangun generasi muda yang religius, humanis, tangguh, disiplin, peduli lingkungan, memiliki jiwa nasionalisme, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat. (ZR2)

    Tidak ada komentar