• Breaking News

    Santri PMI Dea Malela Kritik Korupsi hingga Kerusakan Alam Lewat Pentas Seni

    Pentas seni santri PMI Dea Malela, Sabtu (8/8/2026).

    Sumbawa, Zona Rakyat.-
    Panggung Auditorium Sang Surya, PMI Dea Malela, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB) , Sabtu (8/8/2026) malam, berubah menjadi ruang ekspresi, kritik sosial, sekaligus refleksi tentang masa depan peradaban.

    Melalui "Santri’s Art Creativity 2026 bertajuk “The Rise of Civilization”, para santri PMI Dea Malela menyajikan beragam pertunjukan seni yang tidak hanya menghibur, tetapi juga menyampaikan pesan-pesan penuh makna tentang berbagai persoalan kehidupan.

    Berbagai penampilan santri berhasil memukau para penonton. Melalui musik, tari, teater, dan pertunjukan kreatif lainnya, mereka mengangkat sejumlah persoalan sosial, mulai dari kerusakan alam, korupsi yang merajalela, penyalahgunaan narkoba, penyalahgunaan internet, hingga persoalan pengangguran.

    Kritik terhadap persoalan tersebut dikemas secara kreatif dan komunikatif. Para santri mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk tidak sekadar menjadi penonton terhadap berbagai persoalan bangsa, tetapi berani mengambil peran dalam mencari solusi.

    Tema “The Rise of Civilization” menjadi benang merah seluruh pertunjukan. Peradaban tidak hanya dibangun melalui kemajuan teknologi dan pembangunan fisik, tetapi juga membutuhkan manusia yang memiliki keberanian, kepedulian, moralitas, kreativitas, dan tanggung jawab.

    Hadirkan Wajah Internasional

    Pentas seni tersebut juga memperlihatkan kuatnya nuansa internasional di lingkungan PMI Dea Malela.

    Sejumlah santri yang berasal dari berbagai negara turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Afganistan, China, Jepang, dan Rusia. Kehadiran mereka semakin memperlihatkan PMI Dea Malela sebagai lembaga pendidikan yang mempertemukan generasi muda dari berbagai latar belakang budaya dan bangsa.

    Selain para santri, acara tersebut juga dihadiri pejabat pemerintah daerah, wali santri, serta sejumlah stakeholder.

    Kemeriahan acara terlihat dari antusiasme penonton yang memberikan apresiasi terhadap setiap penampilan. Namun, di balik kemeriahan tersebut, tersimpan pesan serius tentang berbagai tantangan yang dihadapi manusia dan generasi masa depan.

    Din Syamsuddin: Dari Olat Utuk Menuju Peradaban Dunia

    Pengasuh PMI Dea Malela, Prof. Din Syamsuddin, dalam sambutan penutupan memberikan apresiasi terhadap kreativitas dan keberanian para santri dalam menyampaikan berbagai pesan sosial melalui seni.

    Prof. Din menilai apa yang ditampilkan para santri merupakan bagian dari proses pendidikan yang tidak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga kreativitas, karakter, kepekaan sosial, dan kepemimpinan.

    “Saya mengapresiasi pentas seni para santri PMI Dea Malela. Dari lembah Olat Utuk ini, kita ingin menuju peradaban dunia yang maju,” ujar Prof. Din.

    Menurutnya, lokasi PMI Dea Malela yang berada di kawasan Sumbawa bukan menjadi batas bagi para santri untuk memiliki cita-cita besar. Justru dari tempat tersebut, mereka dipersiapkan untuk memiliki wawasan global dan mengambil peran dalam membangun peradaban.

    “Dari lembah Olat Utuk, kita tidak boleh berpikir kecil. Kita harus berpikir tentang dunia, tentang peradaban, dan tentang masa depan umat manusia,” katanya.

    Prof. Din juga berharap para santri PMI Dea Malela kelak mampu menjadi pemimpin Islam masa depan yang memiliki ilmu, akhlak, wawasan luas, serta kemampuan menjawab tantangan zaman.

    “Saya berharap para santri Dea Malela dapat menjadi pemimpin Islam masa depan, pemimpin yang memiliki ilmu, akhlak, wawasan luas, dan mampu memberikan jawaban terhadap berbagai persoalan zaman,” tegasnya.

    Pentas "Santri’s Art Creativity 2026" akhirnya ditutup dalam suasana meriah. Namun, pertunjukan tersebut meninggalkan pesan yang lebih dalam dari sekadar hiburan.

    Dari atas panggung, para santri menyampaikan pesan bahwa membangun peradaban merupakan tanggung jawab generasi muda. Dari lembah Olat Utuk, mereka bermimpi menembus batas geografis menuju panggung dunia—membawa ilmu, kreativitas, nilai-nilai keislaman, dan semangat untuk ikut membangun peradaban yang lebih baik. (Buya)

    Tidak ada komentar