• Tafsir Terhadap Falsafah Maja Labo Dahu dan Gurita Kekerasan

    Amirullah
    Merupakan kegelisahan semua pihak, baik yang bermukim di daerah Bima-Dompu maupun yang tengah merantau jauh di berbagai pelosok tanah air bahwa fenomena kekerasan dan konflik di Bima (setidaknya yang tergambar dalam berbagai pemberitaan media dan medsos) dalam berbagai bentuknya adalah tamparan keras bagi masyarakat Bima itu sendiri. 
    Dalam diskursus yang ada, baik yang ditulis dalam beberapa artikel ilmiah, maupun obrolan di warung kopi, beberapa poin yang dapat dikemukakkan bahwa tindakan kekerasan bahkan perang antar kampung yang terjadi di Bima umumnya dipicu oleh hal-hal “sepele”. Seperti beberapa faktor determinan terjadinya konflik di Bima, yaitu faktor kenakalan remaja, faktor ego harga diri (termasuk harga diri desa) sekalipun masalahnya sepele, watak keras masyarakat yang cenderung ingin menyelesaikan masalah dengan jalan melukai, faktor dendam dan saling curiga mencurigai yang berlebihan. Disamping faktor-faktor ini, tentu faktor lemahnya penegakan hukum dan kurangya peran serta pemerintah daerah patut untuk disorot secara khusus.  
    Sepertinya sedikit agak berani ketika saya mengatakan bahwa berbagai falsafah ataupun pesan-pesan moral seperti Maja Labo Dahu, Ngahi Rawi Pahu, ataupun Ngaha Aina Ngoho sebagai spirit jika bukan sumber terjadinya tindakan kekerasan yang terjadi di Bima setidaknya 1 dekade terakhir ini. 
    Pernyataan ini sekilas dapat menimbulkan ketersingungan, namun ada baiknya untuk dipertimbangkan sebagai renungan dan pemicu kajian lebih lanjut dan yang lebih serius lagi. Sebab, tindakan kekerasan bahkan ledakan konflik antar kampung di Bima pada umumnya disebabkan oleh persoalan “nilai”, “moralitas”, “karakter” atau sisi terdalam dari diri manusia. Bukan disebabkan karena konflik ras, agama, suku, perebutan sumber-sumber ekonomi-politik, konflik ideologi, ataupun konflik teritori. Sekali lagi, sejauh ini saya melihat tindakan kekerasan dan konflik di Bima umumnya dipicu dengan hal yang betul-betul “sepele” atau saya menyebutnya sebagai persoalan mental construct. Untuk itu, kita perlu melihat di mana posisi ajaran-ajaran falsafah Bima di tengah fenomena kekerasan dan konflik yang terjadi secara sahut menyahut?   
    Berbagai petuah falsafah, pesan-pesan moral para pendahulu, dan doktrin identitas diri yang penuh makna seperti Maja Labo Dahu, Ngahi Rawi Pahu, Ngaha Aina Ngoho dan masih banyak lagi telah ditafsirkan secara bebas oleh yang membaca ataupun yang mendengarkan falsafah moral tersebut. Memang seringkali tak dapat dihindari bahwa sebuah teks, senantiasa membuka ruang kepada siapapun untuk ikut memberi interpretasi sesuai dengan kehendak dan batas-batas intelektual yang dimilikinya.  Demikian pula dalam konteks ini, doktrin identitas diri Dou Mbojo yang sangat humanistik di atas disalahpahami dan seringkali ditafsirkan secara keliru untuk melegitimasi kekerasan atau konflik yang bertubi-tubi terjadi di Bima silih berganti bagaikan siang dan malam sekitar 1 dekade terakhir ini.   
    Pesan-pesan moral dalam spirit Maja Labo Dahu atau Ngahi Rawi Pahu misalnya, telah dijadikan dalil untuk meninggikan egoisme diri dan keinginan untuk menghancurkan orang lain. Demi, dan atas nama harga diri sendiri, orang lain sah-sah saja untuk dipotong lehernya, ditebas kepalanya, ataupun dibakar hidup-hidup, dan jika perlu semua kehidupan sandang, pangan, papannya harus dibumi hanguskan. Apakah demikian spirit Maja Labo Dahu atau Ngahi Rawi Pahu falsafah kehidupan Ndai Mbojo itu? Tentu tidak. 
    Saya mengamati, faktor kesalahan tafsir terhadap pesan-pesan moral atau falsafah kehidupan Dou Mbojo di atas telah ikut menyumbang deretan tindakan diskriminasi, kekerasan, hingga berbagai ledakan konflik yang ada. Sadar atau tidak, masyarakat Bima untuk tidak mengatakan semuanya, seringkali didorong oleh semangat Maja Labo Dahu atau Ngahi Rawi Pahu dalam melakukan tindakan-tindakan yang melukai orang lain. Pesan moral Maja Labo Dahu atau Ngahi Rawi Pahu yang sesungguhnya bermakna sosial dan kemanusiaan telah disalah tafsirkan menjadi sangat individualistik, egoistik, dan penuh kemurkaan.
    Saya yakin, falsafah hidup orang Bima di atas dibuat oleh para penduhulu kita untuk menegaskan identitas masyarakat Bima yang memiliki hubungan sosial yang erat diantara sesama, saling membantu, gotong royong, saling melindungi untuk tidak menyakiti, dan semangat juang tinggi dalam kebersamaan sebagai manusia. Dalam pesan Maja Labo Dahu ataupun Ngahi Rawi Pahu itu di dalamnya terkandung nilai-nilai luhur yang jika direfleksikan akan termanisfestasi menjadi etika sosial, etika kemanusiaan, etika welas asih, dan spirit cinta kasih antara sesama manusia.       
    Untuk itulah, tugas para sarjana, para budayawan, para ulama, tokoh masyarakat-adat, dan utamannya pemerintah daerah untuk membumikan atau menginternalisasikan pesan-pesan sosial-kemanusiaan para leluhur (pendahulu) Bima yang ada dalam berbagai falsafah Bima tersebut. Perlu kesadaran bersama untuk mengubah persepsi dan karakter masyarakat dari individualistik-egoistik ke kesadaran kemanusiaan dan cinta kasih. Seperti yang tersirat dalam pesan Maja (malu) jika menyakiti orang lain, Maja (malu) jika tidak mengasihi orang lain yang tengah kesusahan, Maja jika tidak membantu orang lain yang sedang membutuhkan. Maja dan Dahu manakala tidak berbuat yang terbaik dalam hidup dan bermanfaat untuk orang lain. Dan Nilai-nilai luhur inilah yang telah ditunjukan oleh leluhur kita orang Bima tempo dulu yang dinyatakan lewat semangat Ngahi Rawi Pahu (nilai-nilai kebaikan untuk sesama itu harus dibuktikan dalam tindakan nyata). Wallahualam.        

    Penulis adalah Peneliti dan penulis. Sekarang aktif sebagai Kepala Devisi Integrasi Keilmuan dan Pengembangan Tradisi Pemikiran LPP AIK UHAMKA Jakarta. Pernah menjabat Ketua DPP IMM Bidang Kader 2016-2018. Dan Ketua Umum PC IMM Bima 2013.