MDMC Muhammadiyah Kota Bima Tangani Korban Gempa di NTT, 150 Warga Dapat Layanan Kesehatan Gratis
![]() |
| Tim MDMC Muhammadiyah Kota Bima membantu warga berdampak gempa bumi di Manggarai Timur-NTT. |
Manggarai Timur, zonarakyat.com.-Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Muhammadiyah Kota Bima bergerak cepat membantu masyarakat terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT). Melalui tim Emergency Medical Team (EMT) RS PKU Muhammadiyah Bima, Muhammadiyah mengirimkan tenaga kesehatan untuk memberikan pelayanan medis kepada warga di sejumlah wilayah terdampak bencana.
Pergerakan tim dimulai pada 17 Agustus 2026. Sekitar pukul 07.00 WITA, tim EMT RS PKU Muhammadiyah Bima tiba di Labuan Bajo dan disambut Ketua MDMC Manggarai Barat. Satu jam kemudian, sekitar pukul 08.00 WITA, tim melanjutkan perjalanan menuju Ruteng, Kabupaten Manggarai, sebelum bergerak menuju sejumlah wilayah terdampak, di antaranya Reoq, Satar Punda dan Damer, untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.
Perjalanan tim tidak berhenti di wilayah tersebut. Tim EMT kemudian bergerak menuju kawasan terdampak lainnya untuk memastikan masyarakat memperoleh akses pelayanan kesehatan di tengah situasi darurat pascabencana.
Pada 18 Agustus 2026, tim memberikan pelayanan kesehatan di Desa Satar Mpunda dan Satar Mpunda Barat, Kecamatan Lambaleda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Sedikitnya 150 warga mendapatkan pemeriksaan dan pengobatan gratis pada hari tersebut.
Pelayanan kesehatan dilakukan dengan berkoordinasi bersama kepala desa setempat dan Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur.
Direktur RS PKU Muhammadiyah Bima: Ini Tugas Kemanusiaan Muhammadiyah
Direktur RS PKU Muhammadiyah Bima, dr. H. Muhamad Ali, Sp.PD, mengatakan keterlibatan tenaga medis dalam penanganan korban gempa di NTT merupakan bagian dari komitmen kemanusiaan RS PKU Muhammadiyah Bima bersama Persyarikatan Muhammadiyah Bima.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari tugas kemanusiaan RS PKU Muhammadiyah Bima dan Persyarikatan Muhammadiyah Bima. Ketika masyarakat mengalami musibah dan membutuhkan pertolongan, maka kami memiliki tanggung jawab untuk hadir memberikan pelayanan sesuai kemampuan yang kami miliki,” ujar dr. H. Muhamad Ali, Sp.PD
.
Menurutnya, kehadiran tenaga kesehatan RS PKU Muhammadiyah Bima di wilayah terdampak bencana merupakan bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi situasi sulit.
“Kami tidak hanya hadir untuk memberikan pelayanan kesehatan, tetapi juga sebagai bagian dari ikhtiar Muhammadiyah untuk membantu meringankan beban masyarakat yang terdampak bencana. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran tenaga medis sangat dibutuhkan oleh masyarakat, terutama mereka yang berada di lokasi pengungsian,” katanya.
Ia menegaskan, pelayanan kesehatan dalam situasi bencana membutuhkan kerja sama dan koordinasi berbagai pihak agar masyarakat terdampak memperoleh penanganan secara optimal.
“Kami terus mendorong tim untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat dan berkoordinasi dengan unsur-unsur terkait di lapangan. Prinsipnya, RS PKU Muhammadiyah Bima bersama MDMC dan Persyarikatan Muhammadiyah harus hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan kemanusiaan,” tegasnya.
ISPA dan Myalgia Dominasi Keluhan
Berdasarkan data pelayanan kesehatan pada 18 Agustus, penyakit yang paling banyak ditemukan adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan myalgia atau nyeri otot.
Data rekap pelayanan mencatat 49 kasus ISPA dan 31 kasus myalgia dari 150 kunjungan warga. Selain itu, tim juga menangani dyspepsia, sakit kepala, luka terbuka, demam, hipertensi, asma, infeksi saluran kemih, serta sejumlah kondisi lainnya.
Sejumlah pasien juga harus mendapatkan rujukan ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap. Laporan mencatat beberapa kasus seperti fraktur femur, anemia serta kondisi yang disertai diabetes melitus yang memerlukan rujukan.
Libatkan Dokter, Fisioterapi, Perawat dan Bidan
Pelayanan kesehatan dari Tim EMT RS PKU Muhammadiyah Bima melibatkan tenaga medis dari jaringan Muhammadiyah. Pada pelayanan 18 Agustus 2026, tim terdiri atas dokter umum, perawat dan bidan yang berasal dari RS PKU Muhammadiyah Bima dan MDMC Ende.
Adapun rincian Tim EMT RS PKU Muhammadiyah Bima antara lain; dr. Muhammad Alfian (Dokter Umum), Hasyim Dermawan, A.Md.Kep (Perawat), Zainul Arifin, A.Md.Kep (Perawat), Khairunnisah, A.Md.Keb (Bidan) dan Nufarhatin Ramdani, S.Ftr (Fisioterapi).
Keterlibatan tenaga kesehatan dari berbagai unsur tersebut menunjukkan adanya koordinasi lintas daerah dalam merespons kondisi darurat akibat bencana.
Tim medis tidak hanya memberikan pemeriksaan dan pengobatan, tetapi juga melakukan pemantauan terhadap kondisi masyarakat terdampak di lokasi pengungsian.
Warga Masih Trauma, Gempa Susulan Berlangsung
Laporan tim di lapangan menyebutkan bahwa sebagian masyarakat masih mengalami trauma karena gempa susulan masih terus berlangsung.
Selain persoalan kesehatan, tim juga menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Akses menuju tenda pengungsian cukup sulit karena medan yang jauh, jalan berlubang dan berkelok.
Tempat pelayanan yang sekaligus digunakan sebagai lokasi pengungsian warga juga masih terbuka dan berdebu. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi warga maupun petugas medis yang memberikan pelayanan.
19 Agustus Bergerak ke Pota
Setelah memberikan pelayanan di sejumlah titik terdampak, pada 19 Agustus 2026 tim EMT RS PKU Muhammadiyah Bima kembali bergerak menuju Desa Pota, Kecamatan Sambirampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Desa Pota menjadi salah satu titik penting dalam koordinasi respons Muhammadiyah karena terdapat posko utama Muhammadiyah di SMKN 2 Muhammadiyah.
Pergerakan menuju Pota tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas jangkauan pelayanan kesehatan dan memastikan respons kemanusiaan Muhammadiyah dapat menjangkau masyarakat di wilayah terdampak lainnya.
Dengan demikian, misi kemanusiaan EMT RS PKU Muhammadiyah Bima tidak berhenti pada satu lokasi pelayanan. Tim terus bergerak mengikuti kebutuhan masyarakat di lapangan.
Kebutuhan Mendesak Warga
Di tengah kondisi pascabencana, kebutuhan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan pelayanan medis. Tim di lapangan mencatat kebutuhan mendesak berupa persediaan makanan, pakaian, air bersih, sanitasi yang baik dan tempat tinggal sementara.
Kebutuhan tersebut menjadi perhatian penting karena warga masih berada dalam situasi darurat dan sebagian harus bertahan di lokasi pengungsian.
Sementara itu Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bima Drs. H.Ichwan P. Syamsuddin, M.Ap menegaskan, semangat kemanusiaan merupakan bagian dari pengabdian Muhammadiyah kepada masyarakat. Saling tolong menolong sesama manusia dalam situasi darurat tanpa memandang suku, agama dan RAS merupakan semangat gerakan Muhammadiyah.
“Semangat kemanusiaan ini merupakan bagian dari pengabdian Muhammadiyah. Kami berharap kehadiran tim medis dapat memberikan manfaat bagi masyarakat terdampak dan membantu mereka melewati masa-masa sulit akibat bencana ini,” pungkasnya.
Gerak cepat MDMC bersama RS PKU Muhammadiyah Bima tersebut menjadi wujud nyata kehadiran Persyarikatan Muhammadiyah dalam situasi bencana. Dari Labuan Bajo, Ruteng, Reoq, Satar Punda, Damer hingga Pota, tim EMT terus bergerak memberikan pelayanan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Bagi Muhammadiyah, kehadiran di tengah bencana bukan sekadar memberikan pengobatan, tetapi merupakan bagian dari panggilan kemanusiaan untuk hadir, melayani dan membantu meringankan beban masyarakat yang sedang tertimpa musibah. (ZR3)




.jpg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar