FAI UM Bima Gelar Mentoring AIK, Dekan Tekankan Pentingnya Nilai Keislaman bagi Mahasiswa

Assoc. Prof. Nasaruddin, M.PdI saat menjadi narasumber dalam kegiatan Mentoring AIK di Masjid Al-Ikhlas Kampus 1 UM Bima.
Kota Bima, zonarakyat.com.-Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Bima (UM Bima) terus memperkuat pembinaan karakter mahasiswa melalui kegiatan Mentoring Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) yang berlangsung di Masjid Al-Ikhlas Kampus 1 UM Bima, Kamis (15/10/2026).
Kegiatan mentoring tersebut menjadi bagian dari upaya UM Bima dalam memperkuat pemahaman keislaman dan Kemuhammadiyahan sekaligus membangun karakter mahasiswa agar mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kemuliaan akhlak, dan nilai-nilai spiritual dalam kehidupan sehari-hari.
AIK Unsur Penting bagi Mahasiswa UM Bima
Dekan FAI UM Bima, Assoc. Prof. Dr. Ruslan, M.Ag., menegaskan bahwa Al-Islam dan Kemuhammadiyahan merupakan unsur penting yang harus dimiliki oleh setiap mahasiswa UM Bima.
Menurutnya, AIK tidak hanya menjadi bagian dari identitas perguruan tinggi Muhammadiyah, tetapi juga menjadi landasan dalam membentuk karakter, memperkuat pemahaman keislaman, serta menanamkan nilai-nilai Kemuhammadiyahan dalam kehidupan mahasiswa.
Penguatan AIK diharapkan mampu mendorong mahasiswa agar tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki kepribadian yang berlandaskan nilai-nilai Islam, berintegritas, dan bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.
Mahasiswa Wajib Mengamalkan Nilai AIK
Sementara itu, Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPP AIK) UM Bima, Dr.Anwar Sadat, M.Pd.I., menegaskan bahwa mahasiswa FAI memiliki kewajiban untuk memahami sekaligus mengamalkan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus.
“Mahasiswa FAI wajib memiliki pengetahuan tentang Al-Islam dan Kemuhammadiyahan serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan kampus maupun di luar kampus. AIK tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan, tetapi harus tercermin dalam sikap, perilaku, dan akhlak mahasiswa,” tegasnya.
Anwar Sadat berharap kegiatan mentoring AIK dapat menjadi sarana penguatan pemahaman keislaman sekaligus membangun kesadaran mahasiswa untuk menjadikan nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan sebagai pedoman dalam belajar, berinteraksi, dan berkontribusi di tengah masyarakat.
Ilmu Harus Berorientasi pada Kebenaran dan Kemaslahatan
Dalam penyampaian materinya, Assoc. Prof. Nasaruddin, M.Pd.I., menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang cerdas secara akademik. Mahasiswa juga perlu memiliki karakter yang kuat dan spiritualitas yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.
Ia menjelaskan tiga aspek penting dalam membentuk generasi unggul, yakni generasi berilmu, generasi berakhlak mulia, dan generasi yang memiliki spiritualitas.
Aspek pertama adalah generasi berilmu yang mampu berpikir kritis dan berorientasi pada kebenaran. Ilmu pengetahuan merupakan fondasi kemajuan individu dan masyarakat. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya menghafal informasi, tetapi harus mampu memahami, menganalisis, mengevaluasi, dan menerapkan pengetahuan secara tepat.
Mahasiswa juga perlu mengembangkan semangat belajar sepanjang hayat, menjunjung tinggi kejujuran akademik, serta memiliki kemampuan membedakan fakta, opini, dan hoaks. Keterbukaan terhadap kritik dan perbedaan pendapat menjadi bagian penting dalam membangun tradisi akademik yang sehat.
Pesan tersebut sejalan dengan QS. Thaha ayat 114 melalui doa “Rabbi zidni 'ilma”, yang berarti “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.”
Dalam konteks perkembangan teknologi digital, mahasiswa diharapkan mampu melakukan penelitian secara jujur, mencantumkan sumber referensi, menghindari plagiarisme, dan memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) secara bertanggung jawab.
Dengan demikian, kecakapan digital harus berjalan beriringan dengan integritas akademik dan kesadaran untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan manusia.
Akhlak Mulia Menjadi Identitas Mahasiswa
Aspek kedua adalah generasi berakhlak mulia. Nasaruddin menjelaskan bahwa kecerdasan intelektual perlu disertai karakter dan perilaku yang baik agar ilmu pengetahuan dapat memberikan manfaat bagi kehidupan.
Sejumlah nilai yang perlu dikembangkan mahasiswa meliputi kejujuran, amanah, tawaduk, toleransi, kepedulian, dan kedisiplinan.
Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam tindakan nyata, seperti tidak menyontek, menghindari perundungan, menghormati dosen, menghargai pendapat teman, serta menjaga etika dalam menggunakan media sosial.
Akhlak mulia bukan sekadar pengetahuan tentang baik dan buruk, melainkan kebiasaan melakukan kebaikan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Landasan pentingnya akhlak ini ditegaskan dalam QS. Al-Qalam ayat 4, yang menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw. memiliki budi pekerti yang agung.
Dengan demikian, mahasiswa UM Bima diharapkan mampu menjadikan nilai-nilai Islam sebagai pedoman dalam membangun hubungan sosial, menjalankan tanggung jawab akademik, dan berkontribusi bagi masyarakat.
Spiritualitas sebagai Landasan Moral
Aspek ketiga adalah generasi yang memiliki spiritualitas. Nasaruddin menerangkan bahwa spiritualitas berkaitan dengan keimanan, kesadaran moral, pemaknaan hidup, serta hubungan manusia dengan Allah Swt.
Dalam perspektif Islam, spiritualitas diwujudkan melalui ibadah, zikir, doa, membaca dan memahami Al-Qur'an, serta melakukan amal saleh.
Mahasiswa didorong untuk menjaga salat, membiasakan membaca Al-Qur'an, melakukan introspeksi diri atau muhasabah, serta menumbuhkan sikap syukur, sabar, dan ikhlas. Kehidupan akademik juga perlu diseimbangkan dengan pembinaan rohani agar mahasiswa tidak hanya berorientasi pada prestasi, tetapi juga memiliki integritas moral.
Pesan ini selaras dengan QS. Ar-Ra'd ayat 28, yang menjelaskan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.
Dalam praktiknya, spiritualitas tercermin melalui kejujuran meskipun tidak diawasi, penggunaan ilmu untuk kebaikan, kepedulian terhadap sesama, dan komitmen untuk tidak menghalalkan segala cara demi meraih prestasi.
Pelaksanaan Mentoring AIK di Masjid Al-Ikhlas Kampus 1 UM Bima menjadi bagian dari upaya memperkuat pembinaan keislaman dan Kemuhammadiyahan di lingkungan kampus.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu mengintegrasikan kecerdasan intelektual, kematangan akhlak, dan kedalaman spiritualitas dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting dalam membentuk lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi keilmuan, tetapi juga menjunjung tinggi etika, memiliki kesadaran beragama, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Penguatan AIK di lingkungan UM Bima diharapkan terus menjadi bagian penting dalam membangun generasi mahasiswa yang unggul dalam ilmu pengetahuan, mulia dalam akhlak, serta kokoh dalam nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan. (ZR3)



.jpg)


Tidak ada komentar
Posting Komentar